Thursday, January 29, 2009

Gilad Amos : Hamas Musuh Nasional Mesir


Eramuslim 29/1/09 Tabir yang tertutup menjadi terbuka. Teka-teki umat Islam di seluruh dunia terhadap Mesir terjawab. Mengapa selama agresi militer Zionis-Israel terhadap Gaza, justru Mesir mendukung Israel, dan menutup rapat-rapat perbatasan sampai hari ini? Ternyata pemerintah Mesir telah menetapkan Hamas menjadi musuh nasional Mesir.

Penasehat Keamanan dan Politik Israel, yang melakukan kunjungan bolak-balik Tel Aviv – Cairo, Mayor Jendral Gilad Amos, menyatakan terima kasih dan menghormati sikap Mesir yang telah menjadikan Hamas sebagai sebagai musuh dan ancaman keamanan nasional Mesir. Koran Haaretz, yang mengutip pernyataan Gilad, yang usai bertemua dengan Kepala Intelijen Mesir, Omar Sulaiman, secara ekplisit Omar telah menginginkan kerjasama lebih erat dengan Israel, khususnya dalam rangka menghentikan penyelundupan senjata ke Gaza. Gilad dan Omar Sulaiman telah berdiskusi berjam-jam mengenai langkah-langkah yang akan ditempuh kedua negara Mesir-Israel, supaya tidak ada lagi senjata yang dapat masuk ke Gaza.

Tampaknya, Israel masih merasa masygul, karena tak mampu menghentikan Hamas, meskipun sudah diembargo dan diblokade hampir satu, tapi Hamas masih tetap eksis, bahkan mampu menghadapi gempuran militer Israel selama 22 hari. Serangan udara yang massif, dan didukung serangan dari kapal-kapal perang di teluk Gaza, serta serangan darat, yang menggunakan tank-tank Merkava, tak juga dapat membekuk Hamas, dan membuat gerakan itu bertekuk lutut kepada pasukan Zionis-Israel. Inilah yang menjadi perdebatan dikalangan petinggi militer Israel. Tak heran di saat perang yang sedang berkecamuk dengan dahsyat, Menlu Israel, Tzipi Livni terbang ke Washington, dan menandatangani perjanjian dengan Menlu AS, Condoleeza Rice, yang akan menghentikan penyeludupan senjata dari perbatasan Mesir.

Gilad Amos sangat berterima kasih kepada Mesir, yang menunjukkan pengertian yang sangat besar, karena selama perang Mesir telah menutup rapat-rapat perbatasannya. Utusan pemerintah Mesir itu, jugag tak lupa menyatakan penghargaannya, di mana Mesir berjanji tidak akan memberikan apa-apa kepada Hamas, dan akan tetap menutup perbatasannya. “Mesir tidak akan membuka pintu Rafah”, ujar Gilad. Sementara itu, di Cairo tidak ada bantahan atas pernyataan Gilad Amos, yang sudah disiarkan oleh Koran Israel, Haaretz, Rabu, kemarin.

Dibagian lain, para ahli hukum dari Swiss yang melakukan kunjungan ke Gaza, mereka sangat terkejut, melihat kehancuran di wilayah itu, yang sedemikian dahsyat. Anggota perlemen Swiss, sangat shock melihat kondisi yang ada di Gaza. “Israel telah membunuh banyak orang, menghancurkan batu, pohon, dan membunuh apa saja yang ada di Gaza”, ujar anggota parlemen Swiss. Delegasi parlemen yang disertai empat ahli hukum itu melakukan penyidikan ke seluruh wilayah di Gaza, dan melihat serta mencatat semua yang ada di Gaza, sebagai bahan laporan ke Konvensi Jenewa. Angngota parlemen itu juga meminta agar pemerintah Swiss menghentikan kerjasama militer dengan Israel.

Salah seorang anggota parlemen Swiss, Carlo Samaroga, menegaskan akan menangkap dan menahan semua pejabat Israel yang terlibat dalam perang di Gaza, jika mereka melakukan kunjungan ke Swiss. Ini akan menjadi preseden baru, jika pemerintah Swiss melakukan penangkapan dan penahanan terhadap pejabat-pejabat Israel, yang terlibat dalam kejahatan perang di Gaza. Setidak ada tokoh yang terlibat langsung dalam kejahatan perang di Gaza, yaitu Perdana Ehud Olmert, Menlu Tzipi Livni, dan Menhan Ehud Barak.

Secara terpisah salah seorang anggota parlemen Swiss, Josep Zisyadis menyatakan : “ Ini bukan perang antara tentara dengan tentara, tapi ini perang antara pasukan regular (Israel Depend Forces-IOF) melawan rakyat sipil yang tidak bersenjata di Gaza. Ini adalah kejahatan yang tidak dapat diterima, dan masyarakat internasional harus menghukum mereka yang telah melakukan kejahatan”, tambah Josep Zisyadis. Anggota parlemen itu juga meminta rakyat Gaza terus berjuang menolak penjajah, dan melakukan perjuangan membebaskan tanah air mereka, dan hal itu seperti dialami mereka yang mebebaskan Swiss dari cengkeraman Jerman.

Perang yang berlangsung terus menerus, tak lain tujuan Israel adalah ingin memperluas wilayah jajahannya, dan mengusir rakyat Palestina dari tanah kelahirannya. Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan pemerintah Palestina, sejak tahun 2008, jumlah angka pemukiman Yahudi di Tepi Barat, meningkat 60%. Jadi penutupan pemukiman di Gaza itu, dialihkan ke Tepi Barat. Jadi jumlah pemukim Yahudi di wilayah itu semakin banyak. Selama tahun 2008, pemerintah Israel telah membangun 1257 bangunan, termasuk 748 berupa bangunan rumah yang permanent, dan 509 berbentuk caravan. Inilah politik militer rejim Zionis-Israel, yang terus memperluas daerah jajahannya.

Menanggapi maneuver angkat laut Prancis yang sudah berpatroli di Laut Mediteranian, dan menggunakan kapal Fregat, sebagai bagian komitment Presiden Sarkozy kepada Tzipi Livni, yang ingin menghentikan penyelundupan senjata ke Gaza, kelompok Front Perjuangan Palestina (PFLP), meminta agar Prancis dan anggota Nato lainnya, tidak ikut melakukan blockade ke Gaza, yang menghalangi bantuan kemanusiaan yang akan masuk ke Gaza. PFLP juga meminta agar Prancis segera menarik kapal Frigatnya keluar dari Luat Mediterinian. (m/berbagai sumber).

Pakar Hukum Israel: Hamas Kokoh dan Tak Akan Tunduk


Pakar Hukum Israel: Hamas Kokoh dan Tak Akan Tunduk
Kamis, 29 Januari 2009 13:38

Prof. Ruth Gabizon
warnaislam.com — Seorang hakim wanita Israel mengakui kekuatan dan tekad membaja Hamas dalam melawan serangan Israel atas Jalur Ghaza. Hakim mantan anggota Winograd Committee, komisi penyelidik kegagalan Israel di Libanon tahun 2006, itu juga menegaskan bahwa Hamas tak akan pernah tunduk terhadap perintah-perintah Israel.

"Isreal berinteraksi dengan sepele terhadap musuh-musuhnya. Kami menamakan mereka (musuh-musuh Israel) sebagai 'kelompok pembuat onar' atau 'kelompok teroris'. Dan itulah masalah yang bukan sebenarnya. Mereka memiliki legalitas hukum secara penuh. Harus diketahui bahwa ketika kita menghadapi (Hamas) itu sebagai musuh yang kokoh, yang tidak akan menawarkan sikap-sikap melunak secara cepat. Mereka tak akan tunduk kepada kita dengan harga seberapa pun. Itulah titik berangkat kekuatan doktrin internal mereka atas masalah mereka. Orang-orang Hamas itu sangat serius," ujar Prof. Ruth Gabizon, hakim yang pernah melakukan investigasi atas kegagalan militer Israel saat mengagresi Libanon tahun 2006 seperti diberitakan harian Israel Yediot Aharonot, Rabu (28/1).

Lebih lanjut pakar hukum Israel itu mengatakan, kesalahan yang dilakukan oleh Israel pada perang di Libanon tahun 2006 kembali diulang saat agresi ke Jalur Ghaza. Baik di Libanon atau di Ghaza, lanjut Gabizon, Israel menghentikan serangan secara memalukan. Kendati demikian, Gabizon menegaskan bahwa berhentinya serangan Israel atau Ghaza bukan berarti semuanya berakhir.

penulis :
Mochamad Ilyas

Siapakah George Mitchell?


Kamis, 29/01/2009 15:12 WIB

Di AS, nama George Mitchell identik dengan wilayah konflik. Lahir pada 20 Agustus 1933 di Waterville, Maine dari orang tua campuran Lebanon-Irlandia. Ayah Mitchell adalah keturunan Irlandia yang dibesarkan oleh keluarga asal Libanon, sedangkan ibu Mitchell adalah seorang imigran asal Libanon.

Keluarga Mitchell adalah keluarga yang sederhana. Untuk menghidupi lima anak, ayah Micthell bekerja sebagai juru kunci di Colby College dan ibunya bekerja malam hari di sebuah pabrik tekstil. Ketika masih remaja, Mitchell menjadi anak altar di gereja Katolik Maronit di Waterville, gereja yang memberikan layanan dalam bahasa Arab. Tak heran jika sampai beberapa tahun kemudian, Mitchell masih mengingat beberapa kata dalam bahasa Arab.

Sejak kecil, Mitchell sudah terbiasa mencari uang untuk membiayai sekolah hingga jenjang universitas. Ia mengambil sekolah hukum, kemudian bergabung dengan dinas militer AS dan bertugas sebagai agen konter intelejen di Berlin, Jerman.

Mitchell pernah memimpin Senat AS selama delapan tahun. Nama Mitchell mulai menjadi perhatian publik AS saat kasus Iran Kontra mencuat, ketika dalam sebuah dengar pendapat, Mitchell mengajari Letnan Kolonel Oliver L. North-anggota Korps Marinir AS yang terlibat kasus Iran Kontra-tentang patriotisme.

Selanjutnya, pada masa Presiden Bill Clinton, Mitchell ditawari jabatan untuk memimpin Mahkamah Agung. Namun Mitchell menolak dan lebih memilih pensiun. Sejak itu, Mitchell lebih banyak dilibatkan sebagai mediator dalam berbagai konflik. Ia juga pernah dilibatkan dalam penyelidikan kasus penggunaan steroid dan zat-zat berbahaya ang dilarang penggunaannya dalam olahraga, di tim-tim baseball Major League pada tahun 2006. Penemuan Mitchell membuat geger dan menghancurkan reputasi sejumlah pemain baseball terkenal pada masa itu.

Pada masa Presiden Bill Clinton Mitchell pula, Mitchell ditunjuk sebagai utusan AS untuk menyelesaikan konflik di Irlandia Utara. Mediasi yang dilakukan Mitchell membuahkan hasil berupa kesepakatan yang dikenal Good Friday. Kesepakatan itu pernah gagal setahun kemudian, tapi Mitchell mampu memulihkannya kembali. Untuk mendamaikan kelompok Katolik dan Kristen di Irlandia Utara, Mitchell hanya mengajak pimpinan kedua kelompok itu makan malam dan mengatakan pada mereka bahwa malam itu mereka akan membicarakan apa saja kecuali politik. Akhirnya Mitchell dan kedua pimpinan kelompok yang saling berseteru itu cuma membahas soal opera, kebetulan Mitchell sendiri sangat senang dengan opera. Keberhasilan Mitchell di Irlandia Utara mengantakannya menjadi nominator penerima hadiah Nobel perdamaian tahun 1998.

Setelah itu, tahun 2001 pada masa Presiden Goerge W. Bush , Mitchell ditunjuk untuk memimpin sebuah komisi internasional yang bertugas menyelidiki akar penyebab konflik Israel-Palestina. Dari hasil penyelidikan yang dipimpinnya, Mitchell merekomendasikan agar Israel menghentikan pembangunan pemukimannya dan Palestina harus bisa mencegah serangan yang dilakukan kelompok pejuangnya serta menghukum siapapun yang bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan.

Kepiawaian Mitchell menjadi mediator, meski ia kerap melakukan tugasnya dengan cara rahasia, membuat Mitchell dikenal sebagai mediator yang memiliki reputasi baik dan bisa dipercaya oleh keduabelah pihak yang bertikai.

Sekarang, di masa pemerintahan Presiden Barack Obama, Mitchell kembali ditunjuk sebagai utusan AS untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina setelah agresi brutal yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza. Mengomentari penunjukkannya, Mitchell mengakui bahwa tingkat kesulitan memediasi konflik Israel-Palestina cukup tinggi. Namun ia menyatakan yakin, berdasarkan pengalamannya di Irlandia Utara, "perdamaian, betapapun sulitnya, pasti bisa tercapai."

"Konflik itu diciptakan, dilakukan dan dipelihara oleh manusia, dan konflik hanya bisa diakhiri oleh manusia," tukas Mitchell.

Konflik memang hanya bisa dituntaskan oleh manusia, masalahnya, apakah penyelesaiannya bisa adil? Kita tunggu saja, apakah Mitchell mampu menyelesaikan konflik Israel-Palestina dengan fair dan tidak hanya menguntungkan pihak Israel mengingat Presiden Obama sudah menegaskan kebijakannya untuk melindungi Israel, apapun yang terjadi. (ln/bbc/NYT

Pasca Agresi Israel, McD Buka 1000 Gerai Baru di Timur Tengah


Pasca Agresi Israel, McD Buka 1000 Gerai Baru di Timur Tengah
Eramuslim -Kamis, 29/01/2009 12:48 WIB


Sebuah kenyataan yang mencengangkan kembali terjadi di Timur Tengah. Di tengah gencarnya memboikot produk AS dan Israel, terutama setelah agresi biadab Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza, restoran cepat saji yang sudah kondang, McDonald's membuka 1000 gerai barunya di Timur Tengah.

Yang juga membuat heran adalah, McD mengalami kenaikan penjualan sebesar 10%. Keuntungan ini merupakan hasil hitung pada periode tiga bulan belakangan ini saja.

Rakyat Arab, seperti juga rakyat di negeri lainnya, saat ini memang melihat McDonald's sebagai restoran yang harganya cukup terjangkau dan banyaknya gerai yang tersebar dimana-mana.

Di setiap negara Timur Tengah, paling tidak McD sudah mempunyai 51 cabang. Sebagai gambaran, misalnya di UAE, saat ini diperkirakan ada 5,1 juta orang yang setiap hari menyantap hamburger dari McD. (sa/lib)

Wednesday, January 28, 2009

Abu Marzouk: Hamas Musim Panas Berperang Lagi


Dr.Mousa Abu Marzouk , wakil pemimpin politik Hamas, Senin, lalu, menegaskan Gerakan Hamas akan bersiap-siap untuk berperang melawan Israel di musim panas ini. Persiapan perang baru itu, dinyatakan Marzouk, sebagai isyarat yang jelas, guna menghadapi perang yang akan dilancarkan Israel. Pengalaman perang 22 hari di Gaza, pejuang Hamas telah bertempur melawan tank-tank Merkava Israel.

Dalam ceramahnya yang sangat antusias Abu Marzouk di kamp Yarmouk, Damaskus (Syria), ia menegaskan sekarang sedang dilatih 5.000 anggota Hamas untuk menghadapi perang baru melawan Israel. Di sela-sela itu, wakil Khalid Misy’al menceritakan setiap anggota pasukan tentara Israel menggunakan alat elektronik, yang dapat diketahui di mana mereka berada, dan ini langkah untuk mengetahui, ketika mereka tertangkap pejuang Hamas. Hal ini, seperti di alami seorang komandan Batalion Golani, yang tertangkap pejuang Hamas, yang kemudian dieksekusi, sebelum mereka dibebaskan oleh tim batalionnya.

Dalam kesempatan pertemuan dengan masyarakat Palestina, yang ada di kamp Yarmouk itu, menegaskan bahwa tujuan Israel melakukan agresi militer ke Gaza, gagal, dan tidak dapat mengalahkan Hamas. Menyinggun tentang Presiden Barack Obama, yang baru saja menempati Gedung Putih, pemipin Hamas itu menjelaskan kepada rakyat Palestina, bahwa Obama hanyalah akan mengulangi pendahulunya, yaitu Presiden George Bush. Tak akan ada perubahan kebijkan dari Gedung Putih, terkait dengan rakyat Palestina. Rakyat Palestina perlu bukti bukan hanya omongan atau retorika Obama.

Sementara itu, Kepala Biro Politik Hamas, Dr.Khalid Misy’al, memimpin sebuah delegasi, melakukan kunjugan ke Qatar, dan bertemu dengan pemimpin Qatar, Sheik Sultan al-Nahayan. Dalam pembicaraan itu, Misy’al ingin mendorong agar negara-negara Arab bersatu, menekan Israel membuka blockade,yang sudah berlangsung selama satu tahun lebih. Jika perbatasan tidak dibuka, hal ini dapat menimbulkan ketagangan baru di kawasan itu. (m/pic)

Rekonsiliasi Hamas-Fatah dan Para Pengkhianat


Pertemuan Kairo antara perwakilan Hamas dan Fatah, ibarat seberkas sinar-meski redup-bagi jutaan rakyat Palestina yang berharap dan berdoa agar perpecahan antara kedua faksi terbesar di Palestina itu segera berakhir.

Meski terlihat wajar dan simbolis, pertemuan itu menunjukkan bahwa persoalan yang melilit kedubelah pihak bisa diatasi jika kedua faksi itu berniat baik, khususnya rezim Fatah di Ramallah yang selama ini bersikap memalukan karena selalu tunduk dengan kemauan Israel dan AS.

Tak bisa dipungkiri, pertikaian antara Hamas dan Fatah telah menimbulkan malapetaka bagi persoalan Palestina dan menimbulkan pertumpahan darah di kalangan rakyat Palestina sendiri, sebuah luka yang akan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

Meski demikian, rakyat Palestina tetap satu, mereka merasakan rasa sakit dan penderitaan yang sama dibawah penjajahan Israel. Rakyat Palestina tetap memiliki harapan yang sama akan keadilan dan kemerdekaan. Untuk itu dibutuhkan kehidupan harmonis yang kekal di Palestina dan untuk mencapai itu, rakyat Palestina harus jujur dan terbuka serta menahan diri untuk tidak menjatuhkan pihak lain. Sikap seperti ini perlu, atau Hamas maupun Fatah akan tenggelam dan eksistensi mereka memudar.

Bencana besar telah menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza. Agresi brutal itu merupakan kemenangan bagi Israel, kecuali jika entitas Zion-Nazi melihat pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa dan penghancuran pemukiman penduduk serta gedung-gedung milik publik adalah tindakan heroik, maka Adolf Hitler bisa disebut sebagai pahlawan besar sepanjang masa.

Israel berusaha melumpuhkan Hamas, menghancurkan legitimasi pemerintahannya dan berupaya mengembalikan Jalur Gaza pada pimpinan otoritas Palestina Mahmud Abbas dengan menggunakan piring perak. Faktanya, Israel gagal mencapai tujuan jahatnya. Tapi kaum Zionis adalah kaum bebal dan pikiran mereka terlalu jahat untuk memahami makna kemurahan hati, karena kemurahan hari paling tidak harus mengedepankan rasa kemanusiaan dan Zionisme tidak mengenal rasa kemanusiaan.

Hamas dan kelompok pejuang Palestina lainnya menuai membuktikan ketangguhan dan menuai kemenangan yang legendaris dalam menghadapi para kriminal yang jahat, yang telah mengobarkan perang. Di sisi lain kita cuma melihat pernyataan-pernyataan yang menghinakan, desas-desus bahkan fitnah murahan dari Ramallah yang berisi tudingan bahwa Hamas dan para pejuang di Gaza bertanggung jawab atas syahidnya ribuan warga sipil dan atas kehancuran di Gaza. Seolah-olah pilot-pilot pembunuh yang menghujani rakyat sipil dan anak-anak di Gaza dengan bom serta misil yang mengandung zat fosfor putih adalah anggota Hamas, dan bukan tentara-tentara Israel yang telah melakukan kejahatan perang.

Sudah pasti, tuduhan murahan itu dilontarkan oleh dua katagori manusia, yaitu manusia-manusia bodoh yang tidak tahu fakta yang sebenarnya dan para pengkhianat jahat yang melaksanakan tugas-tugas dari Israel. Kelompok manusia pertama, bisa dimaafkan karena ketidakpahaman dan kebodohan mereka. Tapi, kelompok pengkhianat adalah orang-orang Yudas yang harus dibungkam dan dihukum. Dan jika momennya tidak kondusif untuk menindak mereka dengan cara yang layak sekarang ini, maka orang-orang seperti itu harus diisolasi dan dipermalukan.

Hamas memegang tugas khusus untuk menindak para pengkhianat itu dalam beberapa minggu atau beberapa bulan kedepan. Jika tidak, para para petualang yang ada di dalam tubuh Fatah dan otoritas pemerintahan Palestina yaitu orang-orang yang telah melakukan hubungan mesum secara terbuka dengan cara berkolaborasi dengan Shin Beth (intelejen dalam negeri Israel) dan CIA dengan tujuan memperkosa perjuangan rakyat Palestina dan membantu tujuan jahat AS, akan terus melakukan finah dan berusaha untuk menggoyang perjuangan kolektif rakyat Palestina. Orang-orang seperti itu harus disingkirkan, diisolasi, diekspos ke masyarakat, dipermalukan dan harus dipaksa membayar pengkhianatan dan pembelotan yang telah mereka lakukan.

Tapi Fatah bukanlah sebuah gerakan para pengkhianat dan rakyat Palestina tidak ingin melihat Fatah jatuh ke pangkuan orang-orang seperti Muhammed Dahlan, Nimr Hammad dan al-Tayeb Abdul Rahim, orang-orang yang mungkin sedang memimpikan kemenangan Israel di Gaza. Oleh sebab itu, akan sangat bijak dan adalah hak Hamas untuk merangkul para patriot sejati yang masih ada di tubuh Fatah dan Hamas bisa melakukannya sekarang. Apa yang terjadi di Gaza, telah membuat Hamas mendapat penghormatan dan dikagumi oleh masyarakat dunia. Inilah saatnya Hamas untuk menunjukkan fleksibilitasnya terhadap wacana pembentukan kembali pemerintahan nasional Palestina bersatu.

Jika pemerintahan nasional bersatu itu akan dibentuk kembali, pemerintahan Fayad harus dibubarkan dan dibuang ke dalam tong sampah sejarah. Pemulihan pemerintahan nasional bersatu juga harus menyingkirkan orang-orang seperti Keith Dayton dan agen-agen CIA lainnya yang telah mengajarkan pada ratusan bahkan ribuan pemuda-pemuda Palestina yang masih muda dan naif bahwa musuh mereka adalah Hamas dan bukan kaum Zionis yang telah membantai ribuan anak-anak dan warga sipil Palestina di Jalur Gaza dan telah merampas tanah air mereka.

Dalam al-Quran, Allah swt memerintahkan umat Islam untuk menahan diri dan tidak jatuh dalam konflik internal dan perpecahan. Dalam surat Anfal Allah swt berfirman,"Dan patuhlan pada Allah dan Rasulnya, dan janganlah saling bertikai, lapangkanlah hati dan singkirkan nafsu: bersabarlah dan bertekadlah. Allah bersama-sama orang-orang yang sabar dan takwa."

Dan diantara seluruh faksi yang ada di Palestina, Hamaslah yang selayaknya lebih memahami firman Allah ini. Amiin.

Khalid Amayreh ( Palestine Information Center)

Obama : Afghanistan Neraka Baru


Tampaknya Afghanistan akan menjadi ‘epicentrum’ (pusat) konflik baru yang berskala global. Wilayah yang terletak di Asia Selatan, yang berbatasan dengan Pakistan, Iran, dan Tajikistan akan menjadi pusat konflik dan peperangan yang dahsyat. Wilayah yang berada di kaki gunung Hindu Khoost ini, hari-hari berikutnya akan dipenuhi tentara AS.

Ini adalah bukti janji Obama, ketika kampanye presiden, dan akan mengejar Osama di gua-gua pengunungan perbatasan Pakistan-Afghanistan. Obama ingin memindahkan perang yang ada Iraq ke Afghanistan. Obama akan menciptakan neraka baru di kawasan yang sekarang sudah penuh dengan konflik dan perang. Presiden Amerika yang baru itu, hanya mengulangi kebijakan Presiden Bush, yang telah menciptakan perang dingin dengan dunia Islam.

“Afghanistan adalah prioritas kami yang utama”, ujar Menhan AS, Robert Gate. Dalam beberapa bulan ke depan, AS akan memindahkan pasukan yang berada di Iraq ke Afghanistan secara besar-besaran. “Tidak ada sedikitpun keraguan, bahwa Afghanistan merupakan tantangan militer AS di masa depan”, tambah Gate. Pernyataan Menhan Robert Gate ini, disampaikan ketika Gate melakukan konfirmasi di depan Senat AS, yang membidangi pertahanan, Selasa kemarin. Menhan Gate, yang merupakan satu-satunya pejabat di masa Presiden Bush, yang masuk dalam kabinet Obama.

Robert Gate yang mewakili Obama, menyatakan, langkah-langkah militer yang diambil dalam rangka memerangi al-Qaidah dan Taliban, yang menurut Presiden Obama menjadi faktor ancaman keamanan global. “Tujuan utama kami adalah menjaga Afghanistan agar tidak menjadi basis kekuatan al-Qaidah”, ujar Gate. Tapi, menghancurkan kekuatan al-Qaidah dan Taliban di Afghanistan, tidak semudah membalikkan tangan. Karena, al-Qaidah dan Taliban, sebuah kekuatan konvensional, yang menyatukan antara theori perang dengan doktrin agama. Dan, para pejuang Taliban dan al-Qaidah sudah memiliki pengalaman perang yang panjang. Termasuk berperang melawan Uni Soviet selama lebih 15 tahun, ketika Uni Soviet melakukan invasi militer ke Afghanistan. Dan, negeri beruang merah, gagal menguasai sepenuhnya Afghanistan, dan mengalami kekalahan.

Janji Obama ingin menciptakan dialog dan membangun hubungan yang konstruktif dengan negara Islam, tak terbukti. Dan, justru diawal pemerintahannya, Obama sudah menciptakan perang dingin antara dunia Islam dengan AS. Pernyataan-pernyataan yang keras terhadap Iran, Afghanistan, Syria, Lebanon, dan Palestina. Pandangan-pandangan Obama yang awalnya menolak menggunakan kekerasan, perang, dan pendekatan militer, justru sekarang berbalik, Presiden AS pertama kulit hitam, dan berayah seorang muslim asal Kenya ini, walaupun berasal dari Partai Demokrat, yang ‘credo’nya lebih mengutamakan humanisme, tapi ketika menghadapi kelompok atau negara yang menginginkan keadilan, Obama justru menggunakan pendekatan militer. Pernyataan Obama, yang akan memindahkan pasukan militer AS dari Iraq ke Afghanistan dan Pakistan, tujuannya untuk menghadapi wilayah yang menjadi garis depan dengan Taliban dan al-Qaidah.

Retorika Obama tak berbeda dengan George Walker Bush, pendahulunya, yang sudah menghabiskan ratusan milyar dolar untuk memerangi kelompok radikal dan terorisme. Isu tentang terorisme tidak serta merta hilang, ketika Presiden Obama masuk Gedung Putih, dan nampaknya isu terorisme yang menjadi agenda utama Bush, sekarang dilanjutkan oleh Obama.

Presiden Bush yang sudah menjadikan Iraq dan Afghanistan sebagai sebuah ‘neraka’ akan dilanjutkan oleh Presiden Obama.Tidak ada détente (peredaan) ketegangan yang akan diciptakan pemerintahan Obama, di masa yang akan datang. Sebaliknya, Obama akan melanjutkan apa yang sudah pernah dilakukan Presiden Bush. Dan, Obama akan memindahkan pasukan AS yang jumlahnya 142.000 personil, yang sekarang masih bercokol di Iraq ke Afghanistan.

Obama juga akan mengkonsolidasikan seluruh sekutu AS, agar mereka terlibat dalam perang melawan Taliban dan al-Qaidah di Afghanistan. Inilah gambaran pemerintahan Obama, yang menyatakan di awal pidato pelantikannya akan membangun hubungan yang lebih konstruktif dengan dunia Islam, tapi kenyataannya Obama telah menabuh gendering perang, lewat Menhan Robert Gate.

Di Timur Tengah, Obama tak berbuat apa-apa, ketika mesin perang Israel menggilas rakyat Palestina di Gaza. Tak ada komentar, apalagi kecaman terhadap Israel, ketika mesin perang rejim Zionis-Israel, menghancurkan Gaza, dan melakukan holocaust yang sangat mengerikan. Penunjukkan seorang tokoh, yaitu George Mitchell, yang ernah sukses menjadi perunding di Irlandia oleh Obama, yang menjadi utusan khusus Timur Tengah, tak dapat banyak diharapkan. Karena, paradigm Obama tak pernah berobah, dan hanya menggunakan standar Israel.

Obama, seperti pendahulunya, tak lebih dari sekedar ‘traitor’ (boneka) Israel, dan akan memerankan sebagai aktor, yang melaksanakan scenario, yang sudah ditetapkan sang ‘sutradara’ di Tel Aviv. Tampak sangat jelas kebijakan Obama, yang mebangun poros Washington, Tel Aviv, Cairo, dan Ramallah, yang menjadi poros penentuan kebijakannya. Artinya, tak bakal ada kemajuan apapun di Timur Tengah, termasuk konflik di Palestina, di masa yang akan datang. Dan, sampai hari ini, Washington menolak melakukan dialog langsung dengan Hamas, dan tetap menilai Hamas sebagai kelompok ‘teroris’.

Kini, Obama sekadar hanya memindahkan konflik dari Iraq ke Afghanistan. Dan, Presiden baru Amerika ini ingin menciptakan neraka baru di Afghanistan. Sama seperti Uni Soviet, yang menciptakan ‘neraka’ di Afghanistan, lewat invasi militer yang mereka lakukan.

Selanjutnya, justru langkah-langkah yang dilakukan AS dan Israel ingin memecah belah kekuatan dunia Islam, dan menciptakan pengelompokkan, serta tuduhan-tuduhan terhadap kelompok dan negara yang tidak memiliki kesamaan pandangan dituduh ancaman bagi AS. “Tujuan utama kami menjaga Afghanistan dari kemungkinan Afghanistan menjadi basis gerakan teroris dan ektrimis, yang dapat menyerang sekutu-sekutu kami”, ujar Gate.

Perang dingin antarar dunia Islam dengan AS di mulai, dan pernyataan Obama ingin membangun kerjasama yang konstruktif dengan dunia Islam, hanyalah retorika belaka. (m).

Menlu Obama: Roket Hamas Wajib Dibalas


Menlu Obama: Roket Hamas Wajib Dibalas
Rabu, 28 Januari 2009 15:15

Menlu Hillary Clinton
warnaislam.com — Setelah Barack Obama menegaskan akan menjamin keamanan Israel, kini anak buahnya, Hillary Clinton, Menlu AS baru yang berkomentar bahwa Israel punya hak penuh untuk mempertahankan diri.

"Peluncuran roket-roket dari Ghaza terhadap Israel haruslah mendapatkan balasan militer yang mematikan dan membuat kapok," ujar Clinton saat memberikan pernyataan perdananya terkait konflik Palestina-Israel.



Dalam jumpa pers yang digelar pada Selasa (27/1) malam di Washington itu Menlu wanita itu menambahkan, "Sangat disayangkan bahwa pemimpin Hamas terkait kepentingan mereka mengancam kebijakan Israel untuk mempertahankan diri. Hamas harus berpikir untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi penduduk Jalur Ghaza."



Untuk diketahui, Perdana Menteri Israel yang sudah mengundurkan diri, Ehud Olmert, sebelumnya menyambut baik penunjukan Hillary Clinton sebagai Menlu AS. "Senator Clinton adalah sahabat Israel dan bangsa Yahudi," kata Olmert dalam siaran persnya.



Pada kampanyenya melawan Obama saat memperebutkan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton secara tegas mengatakan sikapnya untuk membela Israel, terlebih lagi adanya ancaman nuklir Iran yang ketika itu Hillary Clinton mengusulkan pembentukan payung balasan di sekitar Israel dan negara-negara lainnya di kawasan itu untuk perlindungan dari ancaman-ancaman militer apapun yang mungkin terjadi.(mafkarah-alislaam)



penulis :
Mochamad Ilyas

Pembangunan RS Bantuan Indonesia di Gaza, Dapat Lampu Hijau

Rencana pembangunan rumah sakit publik yang merupakan bentuk partisipasi dan simpati dari pemerintah dan masyarakat Indonesia di wilayah konflik Gaza sepertinya memperlihatkan titik terang.

"Rumah sakit yang direncanakan, sebagai hasil kunjungan Depkes yang pertama itu satu sumbangan dari masyarakat Indonesia kepada masyarakat Palestina bisa segera dioperasionalkan menyusul ada beberapa rumah sakit yang dihancurkan oleh Israel," kata Ketua Bidang Kesehatan dan Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah Dr Natsir Nugroho, di kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (28/1).

Seperti diketahui, serangan yang dilancarkan oleh zionis Israel telah menghancurkan infrastruktur, termasuk rumah sakit, saat ini masih ada beberapa rumah sakit yang beroperasi dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang terbatas dan mengandalkan bantuan dari para donatur.

Dengan berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan, menurutnya, Muhammadiyah akan menyiapkan konsultan perumahsakitan untuk menyusun rencana pembangunan rumah sakit yang akan dikelola oleh pemerintahan di Palestina.

"Saya sudah mendapat satu informasi katanya ada lampu hijau dari pemerintahan di Gaza, kita tinggal menggabungkan dan kebetulan kami di Muhammadiyah kami punya kosultan perumahsakitan," jelas Natsir.

Bahkan, lanjutnya, berdasarkan informasi terakhir seluas dua hektar tanah yang dialokasikan oleh pemerintah Palestina untuk dibangun rumah sakit.

"Kita tinggal menunggu berita tindak lanjutnya dari Ibu Menkes mengenai rencana Indonesia yang akan membuat rumah sakit di jalur Gaza," imbuhnya. (novel)

Sayap Sosial Hamas Terima Rp 425 Juta dari Masyarakat Indonesia


Tim relawan Indonesia menyerahkan bantuan langsung senilai Rp 425 juta untuk korban perang di Palestina. Bantuan itu diserahkan kepada Latjnah Al Iqhotsa Wa Thawari, sayap sosial Hamas yang membawahi sejumlah lembaga sosial yang ada di Gaza.

Bantuan dalam bentuk tunai itu diserahkan Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa (DD), Rabu (28/1/2008) sekitar pukul 05.00 pagi, atau sekitar pukul 10.00 WIB. Ketua Tim Kemanusiaan DD Naryo Adhiat menyatakan, bantuan itu diterima langsung Ketua Latjnah Al Iqhotsa Wa Thawari, Fuad An Nahal.

“Alhamdulillah, bantuan tahap pertama dari masyarakat Indonesia, sudah bisa disampaikan secara langsung. Penyerahan kita lakukan di kantor mereka di pusat kota Gaza City. Mereka menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut, dan menitip salam
kepada masyarakat Indonesia serta mohon doa,” ujar Naryo melalui telepon, Rabu pagi dari Gaza City.

Menurut Naryo, sebelum pemberian bantuan itu, Hamas mengundang tim kemanusiaan DD yang berjumlah dua orang, bermalam di salah satu base camp para pejuang Hamas. Dari tempat itu, terdengar beberapa kali ledakan bom yang bersumber dari pesawat-pesawat tempur Israel.

“Hamas berjanji akan membantu menjaga relawan-relawan dari Indonesia selama berada di Gaza City,” ujar Naryo.

Disebutkan Naryo, setelah penyerahan bantuan dalam bentuk tunai ini, pihaknya akan memberikan bantuan susulan senila Rp 2 miliar. Sejauh ini masih belum ditentukan,apakah bantuan tersebut akan diberikan secara tunai juga, atau dalam bentuk logistik. Beberapa alternatif bantuan antara lain kursi roda dan peralatan medis, serta dukungan pembangunan fasilitas sosial warga Gaza yang rusak dihantam bom dari Israel.