Wednesday, January 21, 2009

Ismail Haniyah Aktifkan Kembali Pemerintahannya di Jalur Gaza


Pemerintahan Resmi Palestina yang dipimpin Ismail Haniyah di Jalur Gaza, menyatakan akan kembali melanjutkan tugasnya dan mengaktifkan departemen pemerintahan serta institusi sipil di Jalur Gaza mulai Rabu pagi ini (21/1). Jubir Pemerintah juga telah menyerukan kepada para pegawai dan masyarakat lainnya, dengan segala keterbatasan yang ada untuk kembali melanjutkan aktivitas di tempat kerja mereka. Langkah ini diambil demi keberlangsungan hidup warga Jalur Gaza, agar pemerintah bisa segera bertindak cepat untuk melakukan segala bentuk perbaikan di wilayahnya.

Seruan tersebut disambut baik oleh warga Gaza. Pihak kampus dan sekolah-sekolah yang berada di kota itu telah menyatakan kesiapannya untuk kembali melanjutkan aktivitas mengajar. Baik para pengajar dan anak didik, hari ini mereka semua sudah siap memulai hidup baru dengan aktivitas rutin seperti biasa.

Jumlah Syuhada Terus Bertambah

Selasa kemarin diberitakan, dua orang anak kecil di Timur Gaza syahid terkena ledakan sisa granat dari agresi Israel ke wilayah itu. Sedangkan syuhada lainnya, adalah seorang petani yang ditembak tentara Israel yang berada di Utara Jalur Gaza.

Dengan demikian, berdasarkan laporan pihak kedokteran Palestina, jumlah warga Gaza yang syahid hingga hari ini sebanyak 1317 orang, sebagian besar mereka adalah anak-anak dan perempuan. Adapun jumlah korban luka sebanyak 5340 orang, dengan data statistik 35% (1855 orang) diantaranya adalah anak-anak dan 15% (795 orang) perempuan. Pihak kedokteran juga menghimbau para warga, demi menghindari bertambahnya korban, agar menjauhi tempat-tempat yang diperkirakan ditanam bom ranjau oleh Israel sebelum mereka menarik diri dari Jalur Gaza.

Hingga saat ini tentara Isarel dikabarkan secara bertahap masih menarik pasukannnya dari Jalur Gaza, dan Selasa kemarin gelombang penarikan senjata berat dan pasukan darat dikabarkan berlangsung secara besar-besaran. Hari ini merupakan hari ke-4 penarikan keluar militer Israel, bersamaan dengan mulai diberlakukannya gencatan senjata yang diserukan Israel pada hari Sabtu lalu (16/1).

Dengan adanya gencatan senjata dan penarikan militer itu, penduduk Gaza kembali ke rumah-rumah mereka yang telah hancur di bom oleh Israel. Bersama para relawan kemanusiaan, mereka kemudian mencari korban-korban yang masih terbenam di balik puing-puing reruntuhan bangunan. Dalam hal ini Direktur urusan Ambulan Darurat, Muawiya Hassanein mengatakan, puluhan syuhada yang tewas dibalik reruntuhan kebanyakan mereka adalah para perempuan, anak-anak dan pria dewasa. Data PBB kemudian menyebutkan, sebanyak 50 puluh ribu warga Gaza kini hidup tanpa memiliki tempat tinggal.(SINAI/ALJ)

Tuesday, January 20, 2009

Dibawah Obama, Palestina Tetap Menjadi Kambing Hitam



Rabu, 21/01/2009 10:34 WIB Cetak | Kirim | RSS

Masyarakat dunia seolah tersihir menyaksikan pelantikan presiden terpilih AS Barack Obama yang berlangsung di Gedung Capitol kemarin.

Dalam sekejap, masyarakat dunia seolah lupa dengan penderitaan yang menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza akibat kebiadaban Zionis Israel, sebuah pemerintahan yang oleh Obama disebut sebagai "sahabat" nya.

Yang menyedihkan lagi, Obama sama sekali tidak menyinggung bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza, apalagi mengecam sahabatnya, Israel. Bagi warga Gaza, Obama bukanlah siapa-siapa. Tak ada yang bisa diharapkan dari sosok presiden seperti Obama.

Khalil al-Attar, seorang pegawai negeri di Gaza mengatakan seperti presiden AS lainnya, Obama tidak akan mengubah kebijakan pro-Israel yang secara historis melekat pada negara AS. Biarbagaimanapun, kata Attar, Obama akan bertindak sejalan dengan kepentingan kelompok yang telah memilihnya, kelompok lobi Yahudi AS.

"Kepentingan-kepentingan itu sesuai dengan kepentingan rakyat Israel ... sedangkan rakyat Palestina, mereka akan selalu menjadi kambing hitam," ujar Attar.

Dukungan penuh Obama pada Israel, sudah ditunjukkannya selama masa kampanye presiden kemarin. Di hadapan AIPAC (American Israel Public Affairs Council), lobi Yahudi yang sangat berpengaruh di AS, Obama menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibukota Israel "yang tidak bisa terbagi". Padahal dunia internasional pun tahu bahwa Yerusalem adalah kota Palestina yang dirampas Israel.

Janji Obama untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina, hanya berpijak pada kepentingan Israel saja sementara kepentingan rakyat Palestina diabaikan.

Samih Zouhdi, pegawai bank di Gaza menyatakan tidak percaya Obama akan merealisasikan janji-janjinya. "Politik hanya memahami bahasa kepentingan dan kami (Palestina) tidak mewakili kepentingan AS," ujar Zouhdi.

Leila Khalil, seorang janda yang suaminya menjadi korban keganasan Israel di Jalur Gaza juga mengungkapkan ketidakpeduliannya pada Obama. "Pemimpin Amerika tidak akan bisa mengembalikan milik saya yang hilang, Obama tidak akan mengembalikan suami saya," tukasnya.

"Suami saya menjadi martir. Meninggalkan saya dan enam anak-anak yang harus saya nafkahi. Obama tidak akan mengembalikan rumah kami yang hancur oleh serangan Israel," sambungnya.

Zouhdi membenarkan ucapan Khalil. "Tak seorang pun presiden AS yang akan memberikan kompensasi atas kehilangan yang kami alami, tak akan menghidupkan kembali para martir, tak akan menyembuhkan mereka yang diamputasi atau membangun rumah-rumah kami kembali," tandas Zouhdi.

Leila Khalil menambahkan,"Kami bahkan sudah tidak bisa mengandalkan pimpinan negara-negara Arab, lantas apa yang kami harapkan dari presiden Amerika yang selalu mendukung Israel? Tak seorang pun peduli pada kami."

Pernyataan warga Gaza bisa dimaklumi. Sulit mempercayai perkataan Obama dalam pidatonya yang mengatakan akan membuka jalan baru bagi hubungan dengan dunia Islam berdasarkan saling menghormati dan saling menguntungkan, karena melihat kebiadaban Israel di Gaza saja, Obama tidak berani berkata apa-apa dan berlagak pilon. (ln/iol)

Pimpinan Shin Bet Akui Militer Israel Gagal Hancurkan Persenjataan Hamas


Eramuslim 19/1-09
Para pejabat pemerintah Israel sah-sah saja mengklaim sudah memenangkan peperangan melawan Hamas di Gaza. Tapi kepala intelejen dalam negeri Israel (Shin Bet), Yuval Diskin mengatakan, pasukan Israel tidak berhasil membumihanguskan seluruh terowongan-terowongan yang dibangun Hamas.

Begitu juga dengan Partai Likud, partai oposisi pemerintah Israe, juga menilai Israel tidak berhasil mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza.

Usai rapat kabinet hari Minggu kemarin, Diskin mengakui bahwa Tel Aviv gagal mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza dan gagal melucuti persenjataan Hamas. Karena terowongan-terowongan yang dibangun Hamas, yang diklaim Israel sudah berhasil dihancurkan, masih ada. Diskin juga menyatakan, Hamas akan mampu memulihkan persenjataannya dalam jangka waktu singkat.

Israel menuding Hamas menggunakan terowongan untuk menyelundupkan senjata dari Mesir. Padahal terowongan-terowongan itu dibangun agar warga Gaza bisa mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang sulit mereka dapatkan setelah Israel menutup semua perbatasan dan memblokade wilayah Gaza selama lebih dari satu tahun.

Meski Israel sudah menyatakan gencatan senjata, situasi keamanan di Jalur Gaza masih rawan karena Israel masih menempatkan banyak pasukannya di wilayah itu dan mengancam akan melanjutkan operasi militernya jika pejuang Palestina menembakkan roketnya.

Di sisi lain, faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza memberikan ultimatum pada Israel untuk menarik seluruh pasukannya dalam satu minggu dan selama satu minggu itu, pejuang Palestina akan melakukan gencatan senjata.

Warga Palestina di Gaza memang belum sepenuhnya aman dari kebrutalan pasukan Zionis Israel. Namun sejumlah pengamat keamanan dan militer sepakat menyebut gencatan senjata sepihak Israel adalah kemenangan bagi Palestina. Karena selama 22 hari agresi kejinya dari darat, laut dan udara, Israel telah membunuh dan melukai warga sipil dan menghancurkan fasilitas publik serta pemukiman warga Palestina di Gaza.

Analis militer asal Mesir, Tal'at Mussalam mengatakan, "Faktanya, musuh sudah gagal mencapai tujuannya dan ini merupakan kemenangan yang jelas bagi kelompok perlawanan di Palestina."

Pendapat serupa diungkapkan Walid Sokaria, pengamat militer asal Libanon. "Setelah 22 hari melakukan serangan non-stop, militer Israel gagal memaksa Hamas dan kelompok-kelompok pejuang lainnya untuk menyerah. Perang Israel tidak mampu menghentikan tembakan roket dan tidak mampu menumbangkan Hamas di Gaza, bahkan Israel gagal membebaskan prajuritanya, Gilad Shalit yang ditawan pejuang Palestina," papar sokaria

"Kemenangan macam apa yang mereka (Israel) klaim. Hamas-lah pihak yang memenangkan peperangan," tukasnya.

Sokaria menambahkan, agresi brutal Israel ke Gaza yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman gencatan senjata sepihak oleh Israel, juga meningkatkan popularitas Hamas di kalangan rakyat Palestina, masyarakat Arab dan komunitas internasional.

Pendapat berbeda dilontarkan Yassin Suwaid, pengamat militer di Libanon. Menurutnya, Israel telah berhasil melakukan pukulan keras terhadap Hamas. "Tidak diragukan lagi, Israel adalah pemenangnya," kata Suwaid.

Menurutnya, yang mengalami kekalahan dalam perang ini adalah warga Gaza yang kehilangan rumah dan orang-orang yang mereka cintai, karena tujuan agresi ke Gaza memang untuk menghancurkan rakyat Palestina di Gaza dan bukan untuk menumbangkan kekuasaan Hamas di wilayah itu.

Agresi brutal Israel ke Jalur Gaza menghancurkan sedikitnya 20.000 pemukiman, 1.500 fasilitas komersial, 51 gedung pemerintahan, 18 gedung sekolah, 20 masjid dan 50 kilometer jalan. Dana yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza dipekirakan mencapai satu milyar dollar.

Pengamat militer di Mesir, Mohammed Abdul Salam tidak sepakat dengan pendapat Suwaid. Ia mengatakan, kehancuran yang terjadi akibat ulah Israel tidak bisa dijadikan basis untuk menilai siapa yang telah memenangkan perang. Abdul Salam cenderung netral memberikan pendapatnya.

"Israel gagal menumbangkan kekuasaan Hamas di Gaza, gagal menghentikan tembakan roket dan menghentikan penyelundupan senjata. Hamas juga tidak berhasil mencapai tujuan militernya. Sebab itu, yang terbaik untuk menjelaskan hasil peperangan ini, Hamas tidak kalah dan Israel tidak menang," ujarnya. (ln/iol/prtv)

Anggota Parlemen Likud: Agresi Militer Israel ke Gaza Gagal


Anggota Parlemen Partai Likud, dan pakar di bidang hukum, Yisrael Katz, menyatakan agresi militer Israel ke Gaza, mengalami kegagalan. Israel tidak mencapai tujuannya. Dan, menimbulkan ratusan korban dikalangan militernya. Pengakuan Katz membuka tabir, yang terang-benderang, yang selalu ditutupi, dan sejatinya Zionis-Israel menderita kerugian besar, akibat agresi yang dilakukan terhadap Gaza.

Katz menegaskan, operasi militer ke Gaza, gagal total, dan itu dibuktikan dengan pengumuman Perdana Menteri Israel, yang mengumumkan pernyataan bahwa Israel, secara sefihak (unilateral) menghentikan serangannya (gencatan) di Gaza, dan tanpa mampu memusnahkan (eliminasi) kekuatan Hamas, dan tidak pula menghasilkan perjanjian penghentian pengiriman senjata, serta membebaskan Kopral Gilad Shalid.

Koran The Observer yang terbit di London, koran yang memiliki pengaruh cukup luas di Inggris, menulis berita, perang yang dilakukan Israel di Gaza, menimbulkan kekalahan secara militer dan moral, tulis The Obeserver. Selanjutnya, koran itu menulis, masalah keamanan Israel, tak dapat diselesaikan hanya secara sefihak (unilateral) yaitu dengan menggunakan kekuatan militer. Cara berpikir para pemimin Israel itu, hanyalah mimpi belaka, dan sikap ini yang mendominasi mayoritas para pemimpin Israel. Keputusan yang diambil tidak sama sekali berdasarkan fakta di lapangan, di mana akibat agresi itu telah menimbulkan korban sipil yang sangat besar, bukan menghancurkan kelompok Hamas di Gaza. The Observer itu menambahkan, sebenarnya tujuan agresi Israel itu ingin membatasi kemampuan militer Hamas, tapi mengapa harus menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada di Gaza. Memang, Israel tidak dapat lagi membedakan antara tempt pejuang Hamas dengan fasilitas umum, semuanya mereka hancurkan. Bahkan, kantor PBB juga menjadi target militer mereka.

Menurut koran yang terbit di Inggris yang memiliki tiras yang luas itu, justru tindakan Israel yang brutal itu, hanyalah menaikan popularitas, simpati dan moral pejuang Hamas di Gaza. Hamas berhasil menyatukan Timur dan Barat, ketika menghadapi Israel. Seluruh dunia dari berbagai kalangan agama, politisi, dan kelompok-kelompok yang ada semua mereka miliki pandangn yang sama, bahwa Israel menjadi ancaman perdamaian. Agresi Israel itu, juga menciptakan kesadaran yang sifatnya kolektif dikalangan masyarakat internasional.

Dr.Abdelsattar Qassem, seorang professor dibidang ilmu politik di Najah Nasional University, yang berada di kota Nablus, perang yang terjadi di Gaza, hanya menjadikan Hamas, sebagai kekuatan perjuangan yang sangat dikagumi dikalangan penduduk, dan kemampuan bertahan selama 22 hari menghadapi gempuran militer Israel, sangatlah mengagumkan. Selanjutnya, Dr.Qassem menambahkan populeritas Hamas, sekarang ini menyeruak ke seluruh dunia Arab, dan seluruh kalangan Gerakan Islam, dan menjadikan Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, tersungkur, ujar Dr.assem.

Israel gagal menusuk dari belakang Gaza untuk menghancurkan Hamas, dan kelompok pejuang Palestina itu, berhasil memberikan perlawanan yang sengit, sehingga pasukan pertahan Israel, gagal mencapai tujuannya menghancurkan seluruh kemampuan militer Hamas. Israel dan para pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Israel, Ehut Olmert , mencatat pasukan Israel tidak mencapai kemajuan yang berarti dari agresi militernya ke Gaza, dan hanyalah menimbulkan korban sipil.

Impian para pemimpin Zionis-Israel akan memenangkan perang di Gaza melawan Hamas, sudah berlalu. Dan, hanya tinggal impian, karena menurut Dr.Qassem kekuatan perlawanan Hamas, memiliki kemampuan pertahanan yang cukup baik, dan akhirnya dapat memenangkan perang, ketika berhadapan dengan pasukan Israel, yang memiliki kemampuan senjata yang amat modern. (M/Pic).

BPS Palestina: Bencana di Gaza Butuh Bantuan Mendesak

Agresi brutal Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari menyebabkan kehancuran yang luar biasa. Biro Pusat Statitstik Palestina mempekirakan kerugian materil yang diderita warga Gaza mencapai 1,9 milyar dollar.

Kepala Biro Pusat Statistik Palestina Dr. Loai Shabana mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2007 terdapat 147.437 gedung dan fasilitas bangunan di Jalur Gaza dan 14 persen dari jumlah gedung itu rusak total atau sebagian hancur akibat bombardir Israel yang berlangsung terus menerus selama tiga minggu. Selain kehancuran fisik, sekitar 1.305 warga Gaza gugur syahid dan 5.400 orang luka-luka

Situasi Jalur Gaza saat ini, kata Dr. Shabana sudah menjadi area bencana dan ribuan warga Gaza membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggalnya. Dr Shabana memprediksi, biaya yang dibutuhkan untuk membangun dan merehabilitas Jalur Gaza mencapai 31.5 juta dollar setiap tahun.

Hamas Makin Kuat dan Populer

Anggota Parlemen Palestina Mona Mansur dalam pernyataannya mengatakan bahwa Israel berhasil menghancurkan apa saja yang ada di Jalur Gaza, termasuk membantai warga sipil kecuali perlawanan rakyat Palestina. Ia mengingatkan, bahwa kekejian yang dilakukan Israel di Jalur Gaza tidak akan menjadi yang terakhir melihat sejarah Israel yang penuh dengan pembataian terhadap rakyat Palestina.

Dalam pernyataannya, Mansur menegaskan, pembantaian Israel di Gaza adalah pesan yang sangat jelas bagi bangsa Arab dan dunia untuk tidak lagi bersikap diam. Mansur mendesak negara-negara Arab dan Muslim untuk melakukan normalisasi dan menentukan strategi damai diantara negara-negara Arab serta mempertimbangkan kembali posisi mereka terhadap Israel.

Mansur juga mengatakan bahwa ia sudah mengirimkan surat ke negara-negara Arab, pemimpin Islam dan parlemen Eropa yang isinya meminta kejelasan sikap mereka atas tragedi di Gaza dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab terhadap warga Gaza.

Sementara itu, Dr. Amr Hamzawy, seorang peneliti senior di institut perdamaian di Washington mengatakan, agresi Israel ke Gaza membuat Hamas makin kuat dan makin populer. Namun ia mengaku masih ragu, apakah pemerintahan baru AS yang dipimpin Barack Obama nanti mau berkomunikasi dengan Hamas sebagai gerakan politik yang populer dan kuat di Palestina, mengingat sejumlah politisi dalam kabinet Obama adalah para pendukung buta Israel.

"Mereka akan menunjukkan simpatinya yang besar pada Israel. Misalnya Hillary Clinton yang dipilih Obama sebagai menteri luar negeri, adalah politisi yang mewakili kota New York, kota lobi Yahudi Zionis," ujar Dr. Hamzawy.

Berbicara dalam sebuah panel diskusi tentang pemerintahan baru Amerika yang diselenggarakan sindikasi doktor Mesir hari Minggu kemarin, Dr Hamzawy mengatakan, selayaknya pemerintahan Obama tidak mengabaikan eksistensi Hamas di Palestina. Ia juga menyatakan yakin bahwa AS akan memainkan peranan dalam upaya mempertahankan gencatan senjata antara Israel di Gaza.

Simpati Rakyat Pakistan

Simpati masyarakat dunia terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza terus mengalir. Ratusan ribu rakyat Pakistan di Karachi, hari Senin kemarin tumpah ruah ke jalan menggelar aksi anti-Israel. Aksi tersebut merupakan aksi anti-Israel terbesar di Pakistan yang dikordinir oleh Jamaat-e-Islami, koalisi partai Islam di Pakistan.

Kumpulan massa terlihat memenuhi jalan mulai dari Tibet Center sampai ke Mazar-e-Quaid, mereka membawa bendera, spanduk dan meneriakan slogan pro-Hamas dan slogan anti-Israel. Massa juga membakar boneka bermuka Bush dan Olmert (PM Israel), melempari gambar keduanya dengan sepatu dan membawa keranda yang menggambarkan anak-anak Palestina menjadi korban kebiadaban Israel.

Spanduk-spanduk yang dibawa massa bertuliskan "Down with Israel and America", "Death to Israel", "We are Hamas" dan tulisan-tulisan lainnya.

Dalam orasinya, tokoh Muslim Pakistan Qazi Hussain Ahmad mengecam negara-negara Arab termasuk pemerintah Pakistan dan PBB yang lagi-lagi menunjukkan sikap berpihak pada Amerika dan Israel. Ia mendesak pemerintah Mesir membuka perbatasan untuk menyelamatkan warga Gaza.

"Umat Islam jangan bergantung lagi pada PBB yang cuma menjadi alat negara-negara Barat yang ingin menentang negara-negara Muslim," tukas Ahmad.

Ia juga menyerukan rakyat Pakistan untuk mendukung perjuangan Hamas di Palestina. "Ketika AS dengan terbuka memberikan senjata pada Israel untuk melakukan genosida lewat terorisme negara, atas dasar hukum dan moral, jangan hentikan dukungan pada Hamas," tandasnya. (ln/pif)

Monday, January 19, 2009

Frustasi Bayangi Militer Israel


Frustasi Bayangi Militer Israel (laporan)
[ 19/01/2009 - 04:22 ]


Harian Timur Tengah (17/1/09)

Apa yang dilakukan tank-tank Israel di sejumlah wilayah di perbatasan Gaza, merupakan setrategi mereka dalam menghadapi perang dengan perlawanan. Taktik ini beberapa tahun yang lalu terbukti berhasil memberangus ratusan pejuang Palestina. Para pejuang mengira tank-tank Israel itu sudah dekat dengan permukiman, hingga mereka keluar menuju tempat terbuka untuk menghadapinya. Sesaat kemudian, pesawat pengintai tanpa awak milik Israel menggempur mereka dengan rudal-rudalnya hingga mereka gugur.

Pada saat yang sama, sejumlah sumber menyebutkan, militer Israel bertujuan memamerkan tank-tank mereka di depan kamp-kamp mereka yang berjumlah ribuan, untuk menipu pasukan perlawanan agar mau keluar dan menghadapi mereka di wilayah terbuka atau wilayah tanpa penghuni di dekat pantai. Dengan demikian pesawat-pesawat pengintai Israel dapat dengan leluasa menggempur mereka dari udara.

Disebutkan, salah satu target terpenting militer Israel dalam serangannya ke Gaza adalah mendesak kelompok perlawanan agar mau keluar menuju wilayah terbuka, sehingga mereka dapat membunuhnya lebih banyak lagi. Diperkirakan, para pejuang sudah berpengalaman dan tidak mau mengulangi kesalahanya dua kali. Mereka tentu tidak mau menjadi bulan-bulanan pembantaian serdadu Zionis.

Beberapa radio Israel yang berbahasa Ibrani melansir pernyataan sejumlah pemimpin militer di wilayah selatan yang menyebutkan, ada perasaan prustasi yang meliputi sejumlah komandan militer Israel akibat keengganan pihak perlawanan memenuhi pancingan mereka. Sejumlah pasukan perlawanan malah bersembunyi di sejumlah terowongan dan banker atau menyelinap di gang-gang sempit permukiman. Hal ini tentu menyulitkan pesawat pengintai Israel atau apache mengendus keberadaan mereka. Padahal tujuan meluaskan jangkauan serangan dengan melakukan operasi perang darat adalah memancing pasukan perlawanan agar mau keluar dari persembunyiannya menuju wilayah terbuka, hingga militer Israel dapat mengumumkan tentang kerugian besar yang diderita pasukan perlawanan. (asy)

Al-Qossam Bunuh 80 Serdadu dan Lessakan 980 Roket


Al-Qossam Bunuh 80 Serdadu dan Lessakan 980 Roket
[ 19/01/2009 - 01:07 ]


Gaza-Infopalestina : Brigade Izzudin Al-Qossam, sayap militer gerakan Hamas menegaskan, pihaknya telah mampu memberikan pukulan keras terhadap musuh Zionis selama perang yang berlangsung 22 hari.

Juru bicara Al-Qossam, Abu Ubaidah dalam konferensi persnya hari ini (19/1) menyebutkan, dalam perang selama 22 hari tersebut, para mujahidnya telah menembak mati 49 serdadu Zionis dan melukai ratusan lainya. Itu belum termasuk korban mati akibat tembakan roket dan tembakan sniper. Dengan demikian diperkirakan jumlah serdadu Zionis yang tewas oleh pasukan Al-Qossam di medan pertempuran, tak kurang dari 80 orang. Jumlah ini belum termasuk korban mati akibat gempuran roket ke wilayah permukiman di sejumlah kota dan distrik Israel. Al-Qossam menantang militer Israel mengumumkan kerugian sebenarnya yang terjadi di medan pertempuran.

Syuhada Al-Qossam

Dalam pada itu, Abu Ubaidah mengumumkan jumlah syuhada yang meninggal akibat gempuran roket Israel mencapai 1300 orang. Kebanyakan warga sipil yang terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua. Jumlah ini menunjukan bahwa perang ini tiada lain hanya pembunuhan warga sipil, sebagai realisasi dari Aqidah Talmud mereka.

Ia mengatakan, perlawanan yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Padahal Israel telah mempersiapkannya ini dalam dalam beberapa bulan sebelumnya. Abu Ubaidah menjelaskan, siapa yang membenarkan perang Israel dan menyebarkan kedustaan bahwa perang ini merupakan serangan balasan atas perlawanan, maka ia telah bersekutu dengan Zionis dan ikut bertanggung jawab dalam perang ini.

Hasil Jihad

Al-Qossam menegaskan, walaupun Israel telah memuntahkan semua roketnya dan membunuh semua yang bergerak di atas bumi ini serta menggunakan ratusan ton bom untuk membunuh bangsa Palestina, namun al-Qossam masih sanggup melancarkan taktik perangnya dalam 23 hari terakhir.

Al-Qossam telah melessakan 980 roket yang terdiri dari 240 roket qossam, 213 roket grad dan 422 roket ringan.

Dari jumlah tersebut, 47 tank Israel rontok dan 4 pesawat tempur mereka jatuh. Satu diantaranya pesawat pengintai tanpa awak.

Tawanan Perang

Juru bicara Al-Qossam ini kemudian menyebutkan, para mujahidnya telah melakukan dua operasi penculikan terhadap serdadu Israel. Pertama dilakukan di sebelah timur Tufah pada hari ketiga serangan dan berhasil menawan sejumlah serdadu Israel. Di sela operasi itu, masuklah pesawat tempur Israel dan menembaki pasukan perlawanan Al-Qossam hingga mujahid Al-qossam, Mahmud Raifi gugur syahid dan terbunuhnya satu serdadu Israel. Sementara yang lainya dapat meninggalkan tempat dengan selamat, walau beberapa orang terluka.

Adapun operasi kedua, dilakukan pada tanggal 5 Januari di sebelah Timur Jabalia. Para pejuang al-Qossam mampu menawan satu serdadu Israel dengan pengawalan ketat dan menahannya selama dua hari di salah satu gedung di medan pertempuran. Kemudian pasukan Zionis mengirimkan salah seorang warga sipil yang ditahannya sebagai tameng hidup untuk dijadikan barang tebusan dengan serdadu Zionis. Namun pasukan perlawanan menolaknya. Pasukan Zionis berang dan mengirimkan pesawat tempur F16 mereka untuk membombardir gedung itu. Dalam serangan ini, tiga pejuang perlawanan yang menawan serdadu tadi gugur syahid sementara serdadu Israel mati terbunuh. Ketiga pejuang tersebut masing-masing, Muhammad Farid Abdullah, Muhammad Abdullah Ubaid dan Iyad Hasan Ubaid.

Pasukan Roket Tidak Terpengaruh

Terkait dengan klaim Israel bahwa targetnya di Gaza telah tercapai, Abu Ubaidah mengatakan, target Zionis di Gaza tidak ada satupun yang tercapai kecuali pembantaian dan kejahatan perang mereka.

Kami di Al-Qossam menegaskan, pasukan roket kami dengan izin Allah tidak tersentuh. Kami melessakan roket-roket ini di saat perang tanpa henti dan kami masih mampu untuk melessakan roket-roket ini selanjutnya. Kami tegaskan, roket kami terus berkembang dan meningkat kemampuanya. Musuh Zionis akan mendapatkan kerugian baru dan menjadi target serangan kami di masa yang akan datang. Kamipun melessakan roket ini dengan perencanaan di saat perang. Seperti kami katakan di awal. Israel telah memulai perang. Namun mereka tidak mampu menghentikanya. Kamilah yang menentukanya.

Sejak awal mereka mengatakan, perang akan berlangsung sebentar. Tetapi kemudian mereka menggelar tahap kedua dan ketiga. Kerugian kami akibat perang ini sedikit sekali. Kami sudah memperbaikinya sebelum perang berakhir. Demikian juga dengan klaim Zionis yang mengatakan, telah menawan pasukan perlawanan. Ini adalah pernyataan dusta. Tidak ada satupun anggota perlawanan yang tertawan oleh mereka. Walaupun mereka menawan itupun hanya warga sipil biasa.

Persenjataan Akan Berlanjut

Juru bicara Al-Qossamm, Abu Ubaidah menegaskan, tujuan perang Zionis tertuju pada penghentian penyelundupan senjata melalui perbatasan. Dan ia minta dukungan internasional untuk menghentikanya. Kami katakan, kalau benar, kapankah penyelundupan senjata melalui jalur resmi perlintasan. Apakah mereka mengizinkannya ? tentu tidak. Tetapi yang penting kami tahu bagaiman senjata itu dibuat dan darimana senjata itu masuk Gaza.

Yang perlu kami katakana di sini adalah, senjata perlawanan tidak masuk dengan jalan diselundupkan. Sejak awal kami menginginkan senjata itu masuk secara resmi. Namun semua Negara menolak perlawanan rakyat Palestina. Oleh karena menjadi hak kami untuk memasukanya dengan cara yang kami bisa. Tekanan untuk melarang masuknya senjata bukanlah perkara baru. Sejak dahulu mereka melarang masuknya senjata perlawanan. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi kami untuk melawan penjajahan. (asy)

Haniyah: Kemenangan Historis Menuju Kemenangan Terbesar


Haniyah: Kemenangan Historis Menuju Kemenangan Terbesar
[ 19/01/2009 - 01:54 ]

Gaza – Infopalestina: Ismael Haniyah, PM Palestina mendeklarasikan kemenangan rakyat Palestina dalam perang melawan Israel di Jalur Gaza yang berlangsung selama 22 hari. Ia menyebut ini pertolongan Allah.

Dalam pidatonya di TV kemarin sore Ahad (18/1) ia menegaskan pasukan Israel harus meninggalkan Jalur Gaza secara penuh tanpa syarat apapun, membuka perlintasan, membebaskan Jalur Gaza dari blokade, tidak boleh ada lagi blokade setelah darah warga Jalur Gaza tumpah oleh kejahatan Israel. Ia menegaskan bahwa Palestina harus bekerja kembali menyempurnakan langkah-langkah yang sudah dimulai. Ia mengisyaratkan bahwa gencatan yang diumumkan oleh Palestina juga sebagai upaya memulai penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, pembebasan blokade dan pembukaan perlintasan.

Haniya yang menegaskan bahwa apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah kemenangan rakyat, dunia internasional dan kemanusiaan menyatakan bahwa rakyat Palestina saat ini berada dalam episode sejarah dan kemenangan historis. Kemenangan ini dinilai sebagai pintu luas menuju kemenangan pasti yang paling besar. Yakni kemenangan yang berdasarkan kepada komitmen memperjuangkan hak-hak, prinsip-prinsipnya, membebaskan tanah Palestina, mendirikan negaranya yang merdeka dengan kedaulatan penuh dengan ibukota Al-Quds, membebasakan semua tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, kembalinya pengungsi ke kampung halaman mereka.

Ia menambahkan bahwa kemenangan ini akan dijadikan sebagai titik tolak mengembalikan kesatuan nasional Palestina dan dialog internal. Agar, kepentingan nasional bisa terwujud. Ia menyerukan agar segera mengkondisikan diri untuk menyukseskan dialog.

Pemerintah Haniyah juga akan terus mengawasi kondisi perlintasan, memberikan bantuan rakyat yang mengalami genosida dahyat dari Israel. Apa yang diinginkan oleh Israel berupa kerusuhan keamanan di Jalur Gaza tidak terjadi.

Ismael Haniya menegaskan pentingnya pengiriman Tim Investigasi internasional untuk melakukan penyelidikan kejahatan Israel terhadap warga Jalur Gaza. Ia meminta agar elit Israel diseret ke Mahkamah Internasional.

Haniya mengatakan bahwa pemerintah Palestina berharapan para syuhada Palestina diberikan tempat yang mulia disisi-Nya, mengambil pelajaran berharga dan memberikan penghormatan kepada Dr. Nazzar Rayyan, dan komandan Mendagri Palestina Syekh Said Shayyam. Semoga mereka semua diberi rakyat, keridelaan, dan kesembuhan segera kepada korban-korban luka.

Haniya menegaskan pihaknya akan segera memberikan bantuan kepada semua keluarga yang ditimpa musibah, rumah dan aset yang dihancurkan Israel, akan diberikan tempat tinggal alternatif secepatnya. Serta akan merehabilisasi kerusakan yang ditimbulkan oleh kejahatan Israel. ia meminta kepada bansga Arab dan Islam serta dunia internasional bertanggungjawab atas semua yang menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Haniya menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua upaya, dukungan dana dan dukungan lain kepada rakyat Palestina di seluruh dunia. Karena dukungan itu telah memberikan kekuatan dan ketegaran dalam berjuang melawan Israel. (bn-bsyr)

Warga Palestina Mencari Yang Tersisa di Bawah Puing-Puing Yang Hancur

Warga Palestina Mencari Yang Tersisa di Bawah Puing-Puing Yang Hancur (laporan)
[ 19/01/2009 - 03:31 ]

Gaza-Infopalestina : Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya sebuah tragedy kemanusiaan yang dialami warga pada hari ke 24 serangan yang meluluhlantakan Gaza. Apa yang terjadi di Gaza tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semuanya hancur bersama hancurnya perasaan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan.

Di gerbang Al-Karomah misalnya yang terletak di sebelah utara Gaza, tidak ada satupun makhluk hidup yang tinggal di sana. Di benteng Andalusia, bangunan yang terdiri dari enam tingkat terpecah berkeping-keping. Seperti gergaji yang patah jadi dua. Orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan datang dengan berjalan kaki mengais sisa-sisa bangunan.

Ke sebelah utara di wilayah Tawaam, tampak prahara kemanusiaan begitu mengerikan. Abu Yusuf yang sudah tua renta datang bersama kedua anaknya dengan berjalan kaki. Ia tinggal bersama anaknya di Tawa’am. Namun roket Israel telah meluluh lantakan rumahnya. Abu Yusuf menggambarkan kesedihanya akibat kehilangan semua anggota keluarganya. Ia tidak bisa melanjutkan ceritanya, sambil memandangi rumahnya yang hancur dengan tatapan yang dalam.

Haji Ajrami (88 tahun) yang mengalami perang tahun 1948, perang 1956 dan perang tahun 1967, terperangah menyaksikan hasil perang kali ini.

Jika diteruskan ke utara tampak jalanan begitu lengang. Pohon-pohon zaitun pada tumbang, kawat listrik terjuntai ke tanah, aliran airpun terhenti. Sejumlah keluarga yang dapat selamat dari kejahatan Zionis, kembali ke perkampungan mereka untuk mencari sisa-sisa keluarga yang diperkirakan masih hidup di bawah reruntuhan. Para ibu menangais puing-puing rumahnya. Dengan deraian air mata yang tak terputus, para wanita itu mengais-ngais sisa-sisa reruntuhan dan mengambilnya lalu dikumpulkan apa saja yang masih bisa diselamatkan. Mereka memasukanya ke kantong pelastik yang ditentengnya.

Adapun anak-anak kecil mereka, sibuk mengumpulkan sisa-sisa peluru serta mencong roket Israel yang telah menghancurkan rumah-rumah mereka. Mereka juga mengumpulkan selongsong peluru yang berserakan paska serangan Israel ke wilayah tersebut. Mereka mengumpulkanya untuk dijual kepada kolektor sebagai tambahan uang sakunya, katanya.

Kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan akibat kejahatan alat perang Israel, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang yang diyakininya akan selesai. Bahkan mungkin ini adalah awal dari perang yang lebih dakhsyat lagi. Korbannya sudah jelas, anak-anak dan wanita yang berada di bawah tank-tank dan roket Israel. (asy)

Israel Diduga Gunakan Senjata Kimia dari Amerika
Senin, 19 Januari 2009 11:29

Korban Luka di Pihak Anak-Anak
warnaislam.com — Seorang dokter asal Norwegia yang turut menolong korban di Gaza mengatakan bahwa ia melihat adanya kehancuran total pada sejumlah jasad. Para korban mengalami pengelupasan kulit yang aneh hingga ke tulang. Dia bahkan tidak tahu zat apa yang digunakan oleh Israel. Karena dari luka yang dialami korban, nampaknya Israel tidak hanya memakai fosfor putih melainkan juga zat kimia berbahaya lainnya.

Hal ini diakui oleh sejumlah dokter Palestina lainnya. Luka bakar menakutkan yang diderita sejumlah korban memang menunjukkan bahwa Israel menggunakan forfor putih dalam serangannya. Namun ada kehancuran lainnya yang terdapat pada tubuh korban yang diduga bukan hanya disebabkan olef fosfor putih, melainkan zat kimia berbahaya lainnya yang mereka sendiri belum mengenalnya secara pasti.

Zat kimia ini selain dapat menyebabkan kecacatan total seperti buta dan luka-luka bakar serius, dalam jangka panjang dia dapat menimbulkan penyakit kanker yang mematikan.

Menurut keterangan dokter-dokter tersebut, Kemungkinan senjata kimia berbahaya ini didatangkan dari Amerika, karena zat-zat kimia tersebut tidak mudah didapatkan selain di negara-negara tertentu seperti Amerika.

Sementara itu Israel mengklaim bahwa mereka tidak menggunakan senjata terlarang dan hanya menggunakan senjata yang diizinkan oleh hukum internasional. Asap putih yang selalu keluar dari persenjataan Israel mereka katakan hanya sekedar untuk menutupi Gaza dengan kabut putih.

penulis :
Mirzah Abdulaziz