Agresi brutal Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari menyebabkan kehancuran yang luar biasa. Biro Pusat Statitstik Palestina mempekirakan kerugian materil yang diderita warga Gaza mencapai 1,9 milyar dollar.
Kepala Biro Pusat Statistik Palestina Dr. Loai Shabana mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2007 terdapat 147.437 gedung dan fasilitas bangunan di Jalur Gaza dan 14 persen dari jumlah gedung itu rusak total atau sebagian hancur akibat bombardir Israel yang berlangsung terus menerus selama tiga minggu. Selain kehancuran fisik, sekitar 1.305 warga Gaza gugur syahid dan 5.400 orang luka-luka
Situasi Jalur Gaza saat ini, kata Dr. Shabana sudah menjadi area bencana dan ribuan warga Gaza membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggalnya. Dr Shabana memprediksi, biaya yang dibutuhkan untuk membangun dan merehabilitas Jalur Gaza mencapai 31.5 juta dollar setiap tahun.
Hamas Makin Kuat dan Populer
Anggota Parlemen Palestina Mona Mansur dalam pernyataannya mengatakan bahwa Israel berhasil menghancurkan apa saja yang ada di Jalur Gaza, termasuk membantai warga sipil kecuali perlawanan rakyat Palestina. Ia mengingatkan, bahwa kekejian yang dilakukan Israel di Jalur Gaza tidak akan menjadi yang terakhir melihat sejarah Israel yang penuh dengan pembataian terhadap rakyat Palestina.
Dalam pernyataannya, Mansur menegaskan, pembantaian Israel di Gaza adalah pesan yang sangat jelas bagi bangsa Arab dan dunia untuk tidak lagi bersikap diam. Mansur mendesak negara-negara Arab dan Muslim untuk melakukan normalisasi dan menentukan strategi damai diantara negara-negara Arab serta mempertimbangkan kembali posisi mereka terhadap Israel.
Mansur juga mengatakan bahwa ia sudah mengirimkan surat ke negara-negara Arab, pemimpin Islam dan parlemen Eropa yang isinya meminta kejelasan sikap mereka atas tragedi di Gaza dan mengingatkan mereka akan tanggung jawab terhadap warga Gaza.
Sementara itu, Dr. Amr Hamzawy, seorang peneliti senior di institut perdamaian di Washington mengatakan, agresi Israel ke Gaza membuat Hamas makin kuat dan makin populer. Namun ia mengaku masih ragu, apakah pemerintahan baru AS yang dipimpin Barack Obama nanti mau berkomunikasi dengan Hamas sebagai gerakan politik yang populer dan kuat di Palestina, mengingat sejumlah politisi dalam kabinet Obama adalah para pendukung buta Israel.
"Mereka akan menunjukkan simpatinya yang besar pada Israel. Misalnya Hillary Clinton yang dipilih Obama sebagai menteri luar negeri, adalah politisi yang mewakili kota New York, kota lobi Yahudi Zionis," ujar Dr. Hamzawy.
Berbicara dalam sebuah panel diskusi tentang pemerintahan baru Amerika yang diselenggarakan sindikasi doktor Mesir hari Minggu kemarin, Dr Hamzawy mengatakan, selayaknya pemerintahan Obama tidak mengabaikan eksistensi Hamas di Palestina. Ia juga menyatakan yakin bahwa AS akan memainkan peranan dalam upaya mempertahankan gencatan senjata antara Israel di Gaza.
Simpati Rakyat Pakistan
Simpati masyarakat dunia terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza terus mengalir. Ratusan ribu rakyat Pakistan di Karachi, hari Senin kemarin tumpah ruah ke jalan menggelar aksi anti-Israel. Aksi tersebut merupakan aksi anti-Israel terbesar di Pakistan yang dikordinir oleh Jamaat-e-Islami, koalisi partai Islam di Pakistan.
Kumpulan massa terlihat memenuhi jalan mulai dari Tibet Center sampai ke Mazar-e-Quaid, mereka membawa bendera, spanduk dan meneriakan slogan pro-Hamas dan slogan anti-Israel. Massa juga membakar boneka bermuka Bush dan Olmert (PM Israel), melempari gambar keduanya dengan sepatu dan membawa keranda yang menggambarkan anak-anak Palestina menjadi korban kebiadaban Israel.
Spanduk-spanduk yang dibawa massa bertuliskan "Down with Israel and America", "Death to Israel", "We are Hamas" dan tulisan-tulisan lainnya.
Dalam orasinya, tokoh Muslim Pakistan Qazi Hussain Ahmad mengecam negara-negara Arab termasuk pemerintah Pakistan dan PBB yang lagi-lagi menunjukkan sikap berpihak pada Amerika dan Israel. Ia mendesak pemerintah Mesir membuka perbatasan untuk menyelamatkan warga Gaza.
"Umat Islam jangan bergantung lagi pada PBB yang cuma menjadi alat negara-negara Barat yang ingin menentang negara-negara Muslim," tukas Ahmad.
Ia juga menyerukan rakyat Pakistan untuk mendukung perjuangan Hamas di Palestina. "Ketika AS dengan terbuka memberikan senjata pada Israel untuk melakukan genosida lewat terorisme negara, atas dasar hukum dan moral, jangan hentikan dukungan pada Hamas," tandasnya. (ln/pif)
Tuesday, January 20, 2009
Monday, January 19, 2009
Frustasi Bayangi Militer Israel
Frustasi Bayangi Militer Israel (laporan)
[ 19/01/2009 - 04:22 ]
Harian Timur Tengah (17/1/09)
Apa yang dilakukan tank-tank Israel di sejumlah wilayah di perbatasan Gaza, merupakan setrategi mereka dalam menghadapi perang dengan perlawanan. Taktik ini beberapa tahun yang lalu terbukti berhasil memberangus ratusan pejuang Palestina. Para pejuang mengira tank-tank Israel itu sudah dekat dengan permukiman, hingga mereka keluar menuju tempat terbuka untuk menghadapinya. Sesaat kemudian, pesawat pengintai tanpa awak milik Israel menggempur mereka dengan rudal-rudalnya hingga mereka gugur.
Pada saat yang sama, sejumlah sumber menyebutkan, militer Israel bertujuan memamerkan tank-tank mereka di depan kamp-kamp mereka yang berjumlah ribuan, untuk menipu pasukan perlawanan agar mau keluar dan menghadapi mereka di wilayah terbuka atau wilayah tanpa penghuni di dekat pantai. Dengan demikian pesawat-pesawat pengintai Israel dapat dengan leluasa menggempur mereka dari udara.
Disebutkan, salah satu target terpenting militer Israel dalam serangannya ke Gaza adalah mendesak kelompok perlawanan agar mau keluar menuju wilayah terbuka, sehingga mereka dapat membunuhnya lebih banyak lagi. Diperkirakan, para pejuang sudah berpengalaman dan tidak mau mengulangi kesalahanya dua kali. Mereka tentu tidak mau menjadi bulan-bulanan pembantaian serdadu Zionis.
Beberapa radio Israel yang berbahasa Ibrani melansir pernyataan sejumlah pemimpin militer di wilayah selatan yang menyebutkan, ada perasaan prustasi yang meliputi sejumlah komandan militer Israel akibat keengganan pihak perlawanan memenuhi pancingan mereka. Sejumlah pasukan perlawanan malah bersembunyi di sejumlah terowongan dan banker atau menyelinap di gang-gang sempit permukiman. Hal ini tentu menyulitkan pesawat pengintai Israel atau apache mengendus keberadaan mereka. Padahal tujuan meluaskan jangkauan serangan dengan melakukan operasi perang darat adalah memancing pasukan perlawanan agar mau keluar dari persembunyiannya menuju wilayah terbuka, hingga militer Israel dapat mengumumkan tentang kerugian besar yang diderita pasukan perlawanan. (asy)
Al-Qossam Bunuh 80 Serdadu dan Lessakan 980 Roket

Al-Qossam Bunuh 80 Serdadu dan Lessakan 980 Roket
[ 19/01/2009 - 01:07 ]
Gaza-Infopalestina : Brigade Izzudin Al-Qossam, sayap militer gerakan Hamas menegaskan, pihaknya telah mampu memberikan pukulan keras terhadap musuh Zionis selama perang yang berlangsung 22 hari.
Juru bicara Al-Qossam, Abu Ubaidah dalam konferensi persnya hari ini (19/1) menyebutkan, dalam perang selama 22 hari tersebut, para mujahidnya telah menembak mati 49 serdadu Zionis dan melukai ratusan lainya. Itu belum termasuk korban mati akibat tembakan roket dan tembakan sniper. Dengan demikian diperkirakan jumlah serdadu Zionis yang tewas oleh pasukan Al-Qossam di medan pertempuran, tak kurang dari 80 orang. Jumlah ini belum termasuk korban mati akibat gempuran roket ke wilayah permukiman di sejumlah kota dan distrik Israel. Al-Qossam menantang militer Israel mengumumkan kerugian sebenarnya yang terjadi di medan pertempuran.
Syuhada Al-Qossam
Dalam pada itu, Abu Ubaidah mengumumkan jumlah syuhada yang meninggal akibat gempuran roket Israel mencapai 1300 orang. Kebanyakan warga sipil yang terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua. Jumlah ini menunjukan bahwa perang ini tiada lain hanya pembunuhan warga sipil, sebagai realisasi dari Aqidah Talmud mereka.
Ia mengatakan, perlawanan yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Padahal Israel telah mempersiapkannya ini dalam dalam beberapa bulan sebelumnya. Abu Ubaidah menjelaskan, siapa yang membenarkan perang Israel dan menyebarkan kedustaan bahwa perang ini merupakan serangan balasan atas perlawanan, maka ia telah bersekutu dengan Zionis dan ikut bertanggung jawab dalam perang ini.
Hasil Jihad
Al-Qossam menegaskan, walaupun Israel telah memuntahkan semua roketnya dan membunuh semua yang bergerak di atas bumi ini serta menggunakan ratusan ton bom untuk membunuh bangsa Palestina, namun al-Qossam masih sanggup melancarkan taktik perangnya dalam 23 hari terakhir.
Al-Qossam telah melessakan 980 roket yang terdiri dari 240 roket qossam, 213 roket grad dan 422 roket ringan.
Dari jumlah tersebut, 47 tank Israel rontok dan 4 pesawat tempur mereka jatuh. Satu diantaranya pesawat pengintai tanpa awak.
Tawanan Perang
Juru bicara Al-Qossam ini kemudian menyebutkan, para mujahidnya telah melakukan dua operasi penculikan terhadap serdadu Israel. Pertama dilakukan di sebelah timur Tufah pada hari ketiga serangan dan berhasil menawan sejumlah serdadu Israel. Di sela operasi itu, masuklah pesawat tempur Israel dan menembaki pasukan perlawanan Al-Qossam hingga mujahid Al-qossam, Mahmud Raifi gugur syahid dan terbunuhnya satu serdadu Israel. Sementara yang lainya dapat meninggalkan tempat dengan selamat, walau beberapa orang terluka.
Adapun operasi kedua, dilakukan pada tanggal 5 Januari di sebelah Timur Jabalia. Para pejuang al-Qossam mampu menawan satu serdadu Israel dengan pengawalan ketat dan menahannya selama dua hari di salah satu gedung di medan pertempuran. Kemudian pasukan Zionis mengirimkan salah seorang warga sipil yang ditahannya sebagai tameng hidup untuk dijadikan barang tebusan dengan serdadu Zionis. Namun pasukan perlawanan menolaknya. Pasukan Zionis berang dan mengirimkan pesawat tempur F16 mereka untuk membombardir gedung itu. Dalam serangan ini, tiga pejuang perlawanan yang menawan serdadu tadi gugur syahid sementara serdadu Israel mati terbunuh. Ketiga pejuang tersebut masing-masing, Muhammad Farid Abdullah, Muhammad Abdullah Ubaid dan Iyad Hasan Ubaid.
Pasukan Roket Tidak Terpengaruh
Terkait dengan klaim Israel bahwa targetnya di Gaza telah tercapai, Abu Ubaidah mengatakan, target Zionis di Gaza tidak ada satupun yang tercapai kecuali pembantaian dan kejahatan perang mereka.
Kami di Al-Qossam menegaskan, pasukan roket kami dengan izin Allah tidak tersentuh. Kami melessakan roket-roket ini di saat perang tanpa henti dan kami masih mampu untuk melessakan roket-roket ini selanjutnya. Kami tegaskan, roket kami terus berkembang dan meningkat kemampuanya. Musuh Zionis akan mendapatkan kerugian baru dan menjadi target serangan kami di masa yang akan datang. Kamipun melessakan roket ini dengan perencanaan di saat perang. Seperti kami katakan di awal. Israel telah memulai perang. Namun mereka tidak mampu menghentikanya. Kamilah yang menentukanya.
Sejak awal mereka mengatakan, perang akan berlangsung sebentar. Tetapi kemudian mereka menggelar tahap kedua dan ketiga. Kerugian kami akibat perang ini sedikit sekali. Kami sudah memperbaikinya sebelum perang berakhir. Demikian juga dengan klaim Zionis yang mengatakan, telah menawan pasukan perlawanan. Ini adalah pernyataan dusta. Tidak ada satupun anggota perlawanan yang tertawan oleh mereka. Walaupun mereka menawan itupun hanya warga sipil biasa.
Persenjataan Akan Berlanjut
Juru bicara Al-Qossamm, Abu Ubaidah menegaskan, tujuan perang Zionis tertuju pada penghentian penyelundupan senjata melalui perbatasan. Dan ia minta dukungan internasional untuk menghentikanya. Kami katakan, kalau benar, kapankah penyelundupan senjata melalui jalur resmi perlintasan. Apakah mereka mengizinkannya ? tentu tidak. Tetapi yang penting kami tahu bagaiman senjata itu dibuat dan darimana senjata itu masuk Gaza.
Yang perlu kami katakana di sini adalah, senjata perlawanan tidak masuk dengan jalan diselundupkan. Sejak awal kami menginginkan senjata itu masuk secara resmi. Namun semua Negara menolak perlawanan rakyat Palestina. Oleh karena menjadi hak kami untuk memasukanya dengan cara yang kami bisa. Tekanan untuk melarang masuknya senjata bukanlah perkara baru. Sejak dahulu mereka melarang masuknya senjata perlawanan. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi kami untuk melawan penjajahan. (asy)
Haniyah: Kemenangan Historis Menuju Kemenangan Terbesar
Haniyah: Kemenangan Historis Menuju Kemenangan Terbesar
[ 19/01/2009 - 01:54 ]
Gaza – Infopalestina: Ismael Haniyah, PM Palestina mendeklarasikan kemenangan rakyat Palestina dalam perang melawan Israel di Jalur Gaza yang berlangsung selama 22 hari. Ia menyebut ini pertolongan Allah.
Dalam pidatonya di TV kemarin sore Ahad (18/1) ia menegaskan pasukan Israel harus meninggalkan Jalur Gaza secara penuh tanpa syarat apapun, membuka perlintasan, membebaskan Jalur Gaza dari blokade, tidak boleh ada lagi blokade setelah darah warga Jalur Gaza tumpah oleh kejahatan Israel. Ia menegaskan bahwa Palestina harus bekerja kembali menyempurnakan langkah-langkah yang sudah dimulai. Ia mengisyaratkan bahwa gencatan yang diumumkan oleh Palestina juga sebagai upaya memulai penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, pembebasan blokade dan pembukaan perlintasan.
Haniya yang menegaskan bahwa apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah kemenangan rakyat, dunia internasional dan kemanusiaan menyatakan bahwa rakyat Palestina saat ini berada dalam episode sejarah dan kemenangan historis. Kemenangan ini dinilai sebagai pintu luas menuju kemenangan pasti yang paling besar. Yakni kemenangan yang berdasarkan kepada komitmen memperjuangkan hak-hak, prinsip-prinsipnya, membebaskan tanah Palestina, mendirikan negaranya yang merdeka dengan kedaulatan penuh dengan ibukota Al-Quds, membebasakan semua tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, kembalinya pengungsi ke kampung halaman mereka.
Ia menambahkan bahwa kemenangan ini akan dijadikan sebagai titik tolak mengembalikan kesatuan nasional Palestina dan dialog internal. Agar, kepentingan nasional bisa terwujud. Ia menyerukan agar segera mengkondisikan diri untuk menyukseskan dialog.
Pemerintah Haniyah juga akan terus mengawasi kondisi perlintasan, memberikan bantuan rakyat yang mengalami genosida dahyat dari Israel. Apa yang diinginkan oleh Israel berupa kerusuhan keamanan di Jalur Gaza tidak terjadi.
Ismael Haniya menegaskan pentingnya pengiriman Tim Investigasi internasional untuk melakukan penyelidikan kejahatan Israel terhadap warga Jalur Gaza. Ia meminta agar elit Israel diseret ke Mahkamah Internasional.
Haniya mengatakan bahwa pemerintah Palestina berharapan para syuhada Palestina diberikan tempat yang mulia disisi-Nya, mengambil pelajaran berharga dan memberikan penghormatan kepada Dr. Nazzar Rayyan, dan komandan Mendagri Palestina Syekh Said Shayyam. Semoga mereka semua diberi rakyat, keridelaan, dan kesembuhan segera kepada korban-korban luka.
Haniya menegaskan pihaknya akan segera memberikan bantuan kepada semua keluarga yang ditimpa musibah, rumah dan aset yang dihancurkan Israel, akan diberikan tempat tinggal alternatif secepatnya. Serta akan merehabilisasi kerusakan yang ditimbulkan oleh kejahatan Israel. ia meminta kepada bansga Arab dan Islam serta dunia internasional bertanggungjawab atas semua yang menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Haniya menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua upaya, dukungan dana dan dukungan lain kepada rakyat Palestina di seluruh dunia. Karena dukungan itu telah memberikan kekuatan dan ketegaran dalam berjuang melawan Israel. (bn-bsyr)
Warga Palestina Mencari Yang Tersisa di Bawah Puing-Puing Yang Hancur
Warga Palestina Mencari Yang Tersisa di Bawah Puing-Puing Yang Hancur (laporan)
[ 19/01/2009 - 03:31 ]
Gaza-Infopalestina : Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya sebuah tragedy kemanusiaan yang dialami warga pada hari ke 24 serangan yang meluluhlantakan Gaza. Apa yang terjadi di Gaza tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semuanya hancur bersama hancurnya perasaan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan.
Di gerbang Al-Karomah misalnya yang terletak di sebelah utara Gaza, tidak ada satupun makhluk hidup yang tinggal di sana. Di benteng Andalusia, bangunan yang terdiri dari enam tingkat terpecah berkeping-keping. Seperti gergaji yang patah jadi dua. Orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan datang dengan berjalan kaki mengais sisa-sisa bangunan.
Ke sebelah utara di wilayah Tawaam, tampak prahara kemanusiaan begitu mengerikan. Abu Yusuf yang sudah tua renta datang bersama kedua anaknya dengan berjalan kaki. Ia tinggal bersama anaknya di Tawa’am. Namun roket Israel telah meluluh lantakan rumahnya. Abu Yusuf menggambarkan kesedihanya akibat kehilangan semua anggota keluarganya. Ia tidak bisa melanjutkan ceritanya, sambil memandangi rumahnya yang hancur dengan tatapan yang dalam.
Haji Ajrami (88 tahun) yang mengalami perang tahun 1948, perang 1956 dan perang tahun 1967, terperangah menyaksikan hasil perang kali ini.
Jika diteruskan ke utara tampak jalanan begitu lengang. Pohon-pohon zaitun pada tumbang, kawat listrik terjuntai ke tanah, aliran airpun terhenti. Sejumlah keluarga yang dapat selamat dari kejahatan Zionis, kembali ke perkampungan mereka untuk mencari sisa-sisa keluarga yang diperkirakan masih hidup di bawah reruntuhan. Para ibu menangais puing-puing rumahnya. Dengan deraian air mata yang tak terputus, para wanita itu mengais-ngais sisa-sisa reruntuhan dan mengambilnya lalu dikumpulkan apa saja yang masih bisa diselamatkan. Mereka memasukanya ke kantong pelastik yang ditentengnya.
Adapun anak-anak kecil mereka, sibuk mengumpulkan sisa-sisa peluru serta mencong roket Israel yang telah menghancurkan rumah-rumah mereka. Mereka juga mengumpulkan selongsong peluru yang berserakan paska serangan Israel ke wilayah tersebut. Mereka mengumpulkanya untuk dijual kepada kolektor sebagai tambahan uang sakunya, katanya.
Kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan akibat kejahatan alat perang Israel, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang yang diyakininya akan selesai. Bahkan mungkin ini adalah awal dari perang yang lebih dakhsyat lagi. Korbannya sudah jelas, anak-anak dan wanita yang berada di bawah tank-tank dan roket Israel. (asy)
[ 19/01/2009 - 03:31 ]
Gaza-Infopalestina : Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya sebuah tragedy kemanusiaan yang dialami warga pada hari ke 24 serangan yang meluluhlantakan Gaza. Apa yang terjadi di Gaza tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semuanya hancur bersama hancurnya perasaan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan.
Di gerbang Al-Karomah misalnya yang terletak di sebelah utara Gaza, tidak ada satupun makhluk hidup yang tinggal di sana. Di benteng Andalusia, bangunan yang terdiri dari enam tingkat terpecah berkeping-keping. Seperti gergaji yang patah jadi dua. Orang tua, anak muda, laki-laki dan perempuan datang dengan berjalan kaki mengais sisa-sisa bangunan.
Ke sebelah utara di wilayah Tawaam, tampak prahara kemanusiaan begitu mengerikan. Abu Yusuf yang sudah tua renta datang bersama kedua anaknya dengan berjalan kaki. Ia tinggal bersama anaknya di Tawa’am. Namun roket Israel telah meluluh lantakan rumahnya. Abu Yusuf menggambarkan kesedihanya akibat kehilangan semua anggota keluarganya. Ia tidak bisa melanjutkan ceritanya, sambil memandangi rumahnya yang hancur dengan tatapan yang dalam.
Haji Ajrami (88 tahun) yang mengalami perang tahun 1948, perang 1956 dan perang tahun 1967, terperangah menyaksikan hasil perang kali ini.
Jika diteruskan ke utara tampak jalanan begitu lengang. Pohon-pohon zaitun pada tumbang, kawat listrik terjuntai ke tanah, aliran airpun terhenti. Sejumlah keluarga yang dapat selamat dari kejahatan Zionis, kembali ke perkampungan mereka untuk mencari sisa-sisa keluarga yang diperkirakan masih hidup di bawah reruntuhan. Para ibu menangais puing-puing rumahnya. Dengan deraian air mata yang tak terputus, para wanita itu mengais-ngais sisa-sisa reruntuhan dan mengambilnya lalu dikumpulkan apa saja yang masih bisa diselamatkan. Mereka memasukanya ke kantong pelastik yang ditentengnya.
Adapun anak-anak kecil mereka, sibuk mengumpulkan sisa-sisa peluru serta mencong roket Israel yang telah menghancurkan rumah-rumah mereka. Mereka juga mengumpulkan selongsong peluru yang berserakan paska serangan Israel ke wilayah tersebut. Mereka mengumpulkanya untuk dijual kepada kolektor sebagai tambahan uang sakunya, katanya.
Kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan akibat kejahatan alat perang Israel, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Apa yang terjadi di Gaza bukanlah perang yang diyakininya akan selesai. Bahkan mungkin ini adalah awal dari perang yang lebih dakhsyat lagi. Korbannya sudah jelas, anak-anak dan wanita yang berada di bawah tank-tank dan roket Israel. (asy)
Israel Diduga Gunakan Senjata Kimia dari Amerika
Senin, 19 Januari 2009 11:29
Korban Luka di Pihak Anak-Anak
warnaislam.com — Seorang dokter asal Norwegia yang turut menolong korban di Gaza mengatakan bahwa ia melihat adanya kehancuran total pada sejumlah jasad. Para korban mengalami pengelupasan kulit yang aneh hingga ke tulang. Dia bahkan tidak tahu zat apa yang digunakan oleh Israel. Karena dari luka yang dialami korban, nampaknya Israel tidak hanya memakai fosfor putih melainkan juga zat kimia berbahaya lainnya.
Hal ini diakui oleh sejumlah dokter Palestina lainnya. Luka bakar menakutkan yang diderita sejumlah korban memang menunjukkan bahwa Israel menggunakan forfor putih dalam serangannya. Namun ada kehancuran lainnya yang terdapat pada tubuh korban yang diduga bukan hanya disebabkan olef fosfor putih, melainkan zat kimia berbahaya lainnya yang mereka sendiri belum mengenalnya secara pasti.
Zat kimia ini selain dapat menyebabkan kecacatan total seperti buta dan luka-luka bakar serius, dalam jangka panjang dia dapat menimbulkan penyakit kanker yang mematikan.
Menurut keterangan dokter-dokter tersebut, Kemungkinan senjata kimia berbahaya ini didatangkan dari Amerika, karena zat-zat kimia tersebut tidak mudah didapatkan selain di negara-negara tertentu seperti Amerika.
Sementara itu Israel mengklaim bahwa mereka tidak menggunakan senjata terlarang dan hanya menggunakan senjata yang diizinkan oleh hukum internasional. Asap putih yang selalu keluar dari persenjataan Israel mereka katakan hanya sekedar untuk menutupi Gaza dengan kabut putih.
penulis :
Mirzah Abdulaziz
Syiria Putuskan Hubungan Diplomasi Dengan Israel

Syiria Putuskan Hubungan Diplomasi Dengan Israel
Senin, 19 Januari 2009 13:30
Presiden Syiria, Bashar al-Assad
warnaislam.com — Syiria menetapkan akan memutuskan hubungan diplomasinya dengan Israel pasca konfrensi Liga Arab yang diselenggarakan Jumat (16/1) dan berakhir pada hari minggu di Damaskus.
Hal ini diikuti oleh Qatar yang juga memutuskan hubungannya dengan Israel. Selama ini Qatar memang tidak memiliki hubungan diplomasi dengan Israel melainkan hanya sebatas hubungan dagang.
Sementara itu puluhan ribu orang berkumpul dan melakukan demonstrasi di Maroko. Pasca penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza pun sejumlah negara masih melakukan aksi mengutuk Israel dan mendukung rakyat Palestina agar terus berjuang melawan agresor Zionis.
Hal yang sama juga terjadi di Pakistan, ribuan orang melempari gambar presiden Amerika, George Bush dengan sepatu, membakar bendera Israel dan Amerika. Ketua Partai Islam Jamaah Islamiyah, mengatakan bahwa satu-satunya yang harus dilakukan oleh rakyat Palestina adalah terus melawan Zionis Israel, terus melawan dengan semua kekuatan.
Dilain pihak, Ehud Olmert mengatakan agar jangan membenci Israel tapi bencilah Hamas. Namun hal ini nampaknya sulit untuk dapat diterima melihat apa yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza hingga menyebabkan terbunuhnya ratusan anak-anak dan ribuan terluka. (al-Jazeera)
Tentara Israel Khawatirkan Aksi Balasan Bom Bunuh Diri
Sebagian tentara Israel menganggap pernyataan pemerintahnya bahwa mereka sudah memenangkan perang melawan "teroris" di Jalur Gaza, hanya sebuah ilusi. Sebagian dari mereka kini mengkhawatirkan aksi pembalasan yang akan dilakukan rakyat Palestian setelah agresi kejam militer mereka ke Gaza.
Yitzchak Ben Mocha, seorang tentara Israel pada surat kabar Guardian edisi Sabtu (17/1) mengatakan bahwa perang yang digelar militer Israel bukan perang untuk mempertahankan diri. Mocha adalah satu dari ratusan tentara Israel yang menolak perintah angkatan bersenjata Israel untuk ikut serta dalam agresi ke Gaza.
"Kami sedang menciptakan ribuan pelaku bunuh diri di masa depan, mereka adalah kerabat dari para korban. Dalam jangka panjang ... kami sedang menciptakan lebih banyak lagi teror," ujar Mocha, 25 tahun.
"Anda tidak bisa memisahkan perang di Gaza dari fakta bahwa bangsa Palestina sedang berada dibawah penjajahan lebih dari 40 tahun. Saya tidak membenarkan tembakan roket Hamas, tapi kitalah, orang-orang Israel yang pertama kali harus melihat apa yang sedang kita lakukan," papar Mocha.
Menurutnya, Israel telah menindas aspirasi rakyat Palestina yang menginginkan kemerdekaan dan mengabaikan protes para petani Palestina yang tanahnya dirampas oleh orang-orang Israel. Mocha juga mengatakan bahwa tentara-tentara Israel telah memperlakukan warga sipil di Gaza dengan sewenang-wenang dan mengakui bahwa tentara Israel memanfaatkan warga Palestina sebagai tameng hidup.
"Saya mengakui perlunya Israel memiliki pertahanan yang kuat, tapi saya tidak mau lagi terlibat dalam penjajahan yang sudah berlangsung selama 40 tahun," ujar Mocha.
"Saya bilang pada militer Israel, saya selalu siap untuk membela Israel. Tapi menyerang Gaza dan melakukan penjajahan, itu bukan membela Israel," sambungnya.
Tentara Israel yang menolak ikut serta dalam agresi di Jalur Gaza membentuk sebuah organisasi Courage to Refuse. Organisasi ini dalam iklannya di sebuah surat kabar mengatakan, pemerintah Israel sudah memberikan harapan palsu karena melakukan kekerasan justeru akan lebih membahayakan keamanan Israel.
"Kami tidak bisa berpihak, sementara ratusan warga sipil Palestina dibantai oleh angkatan bersenjata Israel," demikian pernyataan Courage to Refuse. (ln/iol)
Yitzchak Ben Mocha, seorang tentara Israel pada surat kabar Guardian edisi Sabtu (17/1) mengatakan bahwa perang yang digelar militer Israel bukan perang untuk mempertahankan diri. Mocha adalah satu dari ratusan tentara Israel yang menolak perintah angkatan bersenjata Israel untuk ikut serta dalam agresi ke Gaza.
"Kami sedang menciptakan ribuan pelaku bunuh diri di masa depan, mereka adalah kerabat dari para korban. Dalam jangka panjang ... kami sedang menciptakan lebih banyak lagi teror," ujar Mocha, 25 tahun.
"Anda tidak bisa memisahkan perang di Gaza dari fakta bahwa bangsa Palestina sedang berada dibawah penjajahan lebih dari 40 tahun. Saya tidak membenarkan tembakan roket Hamas, tapi kitalah, orang-orang Israel yang pertama kali harus melihat apa yang sedang kita lakukan," papar Mocha.
Menurutnya, Israel telah menindas aspirasi rakyat Palestina yang menginginkan kemerdekaan dan mengabaikan protes para petani Palestina yang tanahnya dirampas oleh orang-orang Israel. Mocha juga mengatakan bahwa tentara-tentara Israel telah memperlakukan warga sipil di Gaza dengan sewenang-wenang dan mengakui bahwa tentara Israel memanfaatkan warga Palestina sebagai tameng hidup.
"Saya mengakui perlunya Israel memiliki pertahanan yang kuat, tapi saya tidak mau lagi terlibat dalam penjajahan yang sudah berlangsung selama 40 tahun," ujar Mocha.
"Saya bilang pada militer Israel, saya selalu siap untuk membela Israel. Tapi menyerang Gaza dan melakukan penjajahan, itu bukan membela Israel," sambungnya.
Tentara Israel yang menolak ikut serta dalam agresi di Jalur Gaza membentuk sebuah organisasi Courage to Refuse. Organisasi ini dalam iklannya di sebuah surat kabar mengatakan, pemerintah Israel sudah memberikan harapan palsu karena melakukan kekerasan justeru akan lebih membahayakan keamanan Israel.
"Kami tidak bisa berpihak, sementara ratusan warga sipil Palestina dibantai oleh angkatan bersenjata Israel," demikian pernyataan Courage to Refuse. (ln/iol)
Sunday, January 18, 2009
Tentara Zionis Mulai Menarik Diri
Israel Mulai Tarik Pasukan dari Gaza
Senin, 19 Januari 2009 09:42
Tentara Zionis Mulai Menarik Diri
warnaislam.com — Usai mengumumkan gencatan senjata hari minggu kemarin , Israel mulai menarik pasukannya dari Gaza dan membuka perbatasan. Bantuan-bantuan yang menunggu di parbatasan sudah dapat masuk dan disalurkan ke warga yang membutuhkan.
Pemerintah Israel mulai menarik pasukannya dari Gaza setelah mengumumkan gencatan senjata sepihak hari minggu kemarin. Namun negara Zionis tersebut masih belum mau menarik seluruh pasukannya hingga mereka mendapat kepastian bahwa Hamas tidak akan mendapatkan pasokan senjata.
Sementara itu puluhan truk bantuan kemanusiaan sudah mulai masuk ke Gaza seiring dibukanya pintu perbatasan. Namun bantuan-bantuan itu diperkirakan belum mampu mencukupi kebutuhan para korban agresi terutama makanan untuk memenuhi gizi anak-anak.
penulis :
Mirzah Abdulaziz
Senin, 19 Januari 2009 09:42
Tentara Zionis Mulai Menarik Diri
warnaislam.com — Usai mengumumkan gencatan senjata hari minggu kemarin , Israel mulai menarik pasukannya dari Gaza dan membuka perbatasan. Bantuan-bantuan yang menunggu di parbatasan sudah dapat masuk dan disalurkan ke warga yang membutuhkan.
Pemerintah Israel mulai menarik pasukannya dari Gaza setelah mengumumkan gencatan senjata sepihak hari minggu kemarin. Namun negara Zionis tersebut masih belum mau menarik seluruh pasukannya hingga mereka mendapat kepastian bahwa Hamas tidak akan mendapatkan pasokan senjata.
Sementara itu puluhan truk bantuan kemanusiaan sudah mulai masuk ke Gaza seiring dibukanya pintu perbatasan. Namun bantuan-bantuan itu diperkirakan belum mampu mencukupi kebutuhan para korban agresi terutama makanan untuk memenuhi gizi anak-anak.
penulis :
Mirzah Abdulaziz
Qatar Menutup Kantor Perwakilan Dagang Zionis
Qatar Menutup Kantor Perwakilan Dagang Zionis
Senin, 19 Januari 2009 06:52
Pemimpin Qatar Syaikh Hamad bin Khalifah Alu Tsani
warnaislam.com — Ahad (18/1/2009), negara Qatar memanggil direktur kantor perwakilan dagang zionis Israel di Doha.
Negara arab ini juga meminta direktur dan para pegawainya segera meninggalkan negara Qatar dan menutup kantor tersebut dalam waktu sepekan terhitung mulai Ahad kemarin.
Sumber-sumber kementerian luar negeri Qatar menyebutkan bahwa pada ahad pagi (18/1/2009), kantor kementerian luar negeri Qatar telah melayang surat yang berisikan penutupan segera kantor perwakilan dagang zionis dan segera memulangkan para pegawainya dari negara tersebut.
Qatar juga telah menyampaikan kepada warga negaranya yang bekerja sebagai pegawai di kantor perwakilan dagang Qatar di Tel Aviv untuk segera kembali ke Qatar selambatnya satu pekan sejak pemutusan hubungan dagang ini diumumkan.
Qatar adalah satu-satunya negara teluk yang memiliki hubungan dagang dengan Israel sejaka tahun 1996. Akan tetapi Qatar tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara zionis ini seperti halnya Mesir, Yordania dan Mauritania.
Sebelumya pada tanggal 5 Januari 2009, Mauritania telah memutuskan hubungan diplomatiknya dengan negara zionis sebagai bentuk protes keras terhadap agresi yang dilancarkan terhadap Jalur Gaza.
Senin, 19 Januari 2009 06:52
Pemimpin Qatar Syaikh Hamad bin Khalifah Alu Tsani
warnaislam.com — Ahad (18/1/2009), negara Qatar memanggil direktur kantor perwakilan dagang zionis Israel di Doha.
Negara arab ini juga meminta direktur dan para pegawainya segera meninggalkan negara Qatar dan menutup kantor tersebut dalam waktu sepekan terhitung mulai Ahad kemarin.
Sumber-sumber kementerian luar negeri Qatar menyebutkan bahwa pada ahad pagi (18/1/2009), kantor kementerian luar negeri Qatar telah melayang surat yang berisikan penutupan segera kantor perwakilan dagang zionis dan segera memulangkan para pegawainya dari negara tersebut.
Qatar juga telah menyampaikan kepada warga negaranya yang bekerja sebagai pegawai di kantor perwakilan dagang Qatar di Tel Aviv untuk segera kembali ke Qatar selambatnya satu pekan sejak pemutusan hubungan dagang ini diumumkan.
Qatar adalah satu-satunya negara teluk yang memiliki hubungan dagang dengan Israel sejaka tahun 1996. Akan tetapi Qatar tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara zionis ini seperti halnya Mesir, Yordania dan Mauritania.
Sebelumya pada tanggal 5 Januari 2009, Mauritania telah memutuskan hubungan diplomatiknya dengan negara zionis sebagai bentuk protes keras terhadap agresi yang dilancarkan terhadap Jalur Gaza.
Subscribe to:
Posts (Atom)