Tuesday, January 27, 2009

Menteri Israel Ancam Akan Bunuh Ismail Haniyah


Eramuslim 28/1/09 Menteri Transportasi Israel Shaul Mofaz mengancam akan membunuh Perdana Menteri dari Hamas, Ismail Haniya jika Hamas tidak juga membebaskan prajurit Israel Gilad Shalit yang sejak agresi brutal Israel ke Gaza belum jelas nasibnya.

Shalit tertangkap dan ditawan oleh pejuang Palestina dalam sebuah operasi di perbatasan Gaza tahun 2006.

"Sepanjang Gilad Shalit belum melihat sinar matahari, Anda (Haniyah) juga tidak akan melihat sinar mentari. Sepanjang Shalit belum dibebaskan, Anda dan rekan-rekan Anda tidak akan bisa bebas," ancam Mofaz.

"Kami tidak segan-segan menyingkirkan Anda seperti kami menyingkirkan Yassin dan Rantissi," sambung Mofaz yang sebelumnya sudah mendesak pemerintahan Israel agar melanjutkan kebijakan "pembunuhan" terhadap target-target utama mereka di kalangan pemimpin Hamas.

Syaikh Ahmad Yassin dan Abdul Aziz Rantissi adalah dua pemimpin Hamas yang syahid akibat serangan Israel yang dilakukan masing-masing pada bulan Maret dan April 2004.

Seorang pejabat Israel mengungkapkan publik dan pemerintah Israel sudah berkonsensus untuk membebaskan Shalit meski harus melakukan kebijakan yang sangat buruk ke Palestina sebagai konsekuensinya.

Israel menolak tawaran Hamas yang meminta agar Israel membebaskan para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel sebagi kompensasi pembebasan Shalit.

Sejauh ini, nasib Shalit belum jelas apakah masih hidup atau sudah tewas. Saat agresi brutal Israel ke Gaza kemarin, Hamas melaporkan bahwa Shalit terluka akibat bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel ke gedung tempat Shalit ditawan.

Belakangan, Shalit dikabarkan tewas juga akibat serangan bom Israel. Hamas sudah menyatakan mereka tidak bertanggung jawab lagi atas nasib Shalit dan menyuruh Israel untuk mencari sendiri keberadaan Shalit. (ln/prtv)

UNRWA; Pemulihan Gaza Butuh Dana 350 Juta Dollar


Wakil Komisaris Umum UNRWA, Filippo Grandi menyatakan bahwa UNRWA telah menyiapkan rencana untuk usaha pemulihan kondisi Gaza dalam waktu sembilan bulan, dan diperkirakan akan memakan biaya sebesar 350 juta dollar. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers seusai acara seremonial pembukaan Konferensi Dewan Pengawas Palestina ke 18 di Kairo (25/1). Ia menyatakan bahwa UNRWA telah mendapatkan sepertiga dana yang diperlukan. Saat ini UNRWA memerlukan banyak dana untuk pemulihan kondisi kota-kota lainnya selain Gaza.

Grandi menyatakan bahwa saat ini ada tiga hal yang perlu diprioritaskan. Pertama, mewujudkan kesatuan Palestina, kedua, mewujudkan pemerintahan yang Palestina yang sah, dan terakhir memberikan bantuan finansial ke Gaza. Dalam hal ini UNRWA mempunyai beberapa langkah yang akan dilakukan. Langkah-langkah tersebut adalah: memberikan keamanan, dan membukan pintu-pintu masuk yang ada fi Gaza, dan memberikan bantuan finansial. Hanya saja saat ini UNRWA belum bisa memberi bantuan berupa uang karena jatuhnya nilai nominal mata uang di Gaza akibat perang.

Menteri Luar Neger Mesir, Ahmad Abul Ghaith juga menegaskan bahwa konferensi berikutnya yang akan dilaksanakan bulan Februari nanti tidak hanya membahas usaha pemulihan Gaza, namun sekaligus untuk menyepakati mekanisme operasional dalam membangun Gaza kembali.

Di hari yang sama, Tim Saudi Arabia juga menandatangani kesepakatan kerjasama dengan perwakilan UNRWA di Riyadh. Dr. Sa'id Al-Arabi Al-Haritsi, penasehat menteriluar negeri sekaligus ketua Tim Kemanusiaan Saudi Arabia, menyatakan bahwa bentuk kerjasama yang diberikan adalah dengan menyumbangkan dana untuk UNRWA sebesar 24.375.000 riyal saudi arabia atau senilai dengan 65 juta dollar AS.

Al-Haritsi menyatakan bahwa bantuan ini terbagi dua. Pertama, bantuan finansial yang nilainya lebih dari 200 juta riyal atau 59 juga dollar dan yang kedua, bantuan bahan pokok sebanyak 70 truk yang membawa 770 Ton bantuan. Ia juga menyatakan bahwa selama perang, pihak kerajaan Saudi Arabia telah memberikan bantuan makanan untuk 270 ribu keluarga setiap hari bersama dengan WFP (World Food Programme) milik PBB. (SN/MKH)

BSMI, KISPA, BAZNAS, Dan MER-C Telah Masuk Gaza


RAFAH - Tim Kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), KISPA, BAZNAS, dan MER-C, Selasa sore pukul 15.30 waktu setempat (20.30 WIB), berhasil memasuki Jalur Gaza setelah memperoleh izin masuk Pihak Keamanan Mesir di penyeberangan Rafah. Ketika, berada di Gaza, Sekjen KISPA, Ferry Nur, menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat Islam Indonesia, yang telah memberikan dukungan kepada rakyat Palestina di Gaza. Ferry berjanji akan menyerahkan amanah berupa bantuan yang telah diterimanya kepada fihak pemerintah Palestina di Gaza.

Rombongan yang terdiri 15 relawan kemanusiaan Indonesia ini diketuai dr. Basuki Supartono. Rombongan membawa dua unit ambulan yang rencananya akan diwaqafkan ke Jalur Gaza, disamping bantuan kemanusiaan lainnya.

Kemudahan proses administrasi melewati penyeberangan Rafah yang sulit ditembus itu, tak terlepas dari adanya kerja sama Tim Relawan BSMI dengan pihak Kedutaan Besar RI di Kairo dan Asosiasi Kedokteran Arab di Mesir.

Selain bantuan dari BSM Indonesia, bantuan juga datang dari Bulan Sabit Merah (BSM) Kuwait yang diizinkan memasuki Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah sekira pukul 17.30 waktu setempat (22.30

Kronologis dan Fakta di Balik Agresi Israel di Jalur Gaza


Selasa, 27/01/2009 12:02 WIB Cetak | Kirim

Agresi Israel terhadap Jalur Gaza yang dimulai 27 Desember 2008 dan berakhir setelah hampir satu bulan ternyata merupakan sebuah akumulasi rencana Israel terhadap rakyat Palestina. Berbagai perkembangan yang terjadi di Palestina, khususnya di Gaza membuat Israel melakukan manuver-manuver yang tak mereka duga. Inilah perjalanan agresi Israel di Jalur Gaza dengan beberapa fakta di baliknya.

1.) Tahun 2005, Isarel memerintahkan semua orang Yahudi yang masih ada di Jalur Gaza untuk pindah dan mengonsentrasikan diri ke Tepi Barat. Salah satu dari penarikan besar-besaran ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kekuatan Hamas.

2.) Tahun 2006, Hamas memenangi pemilu dengan telak, sesuatu yang tak diduga-duga oleh Israel dan pihak manapun. Mereka tadinya sudah menginstalasi Fatah sebagai institusi resmi Palestina, namun betapa shocked dan ngerinya Israel ketika realitas yang ada ternyata menunjukan rakyat memilih Palestina.

3.) Sekitar 70% Hamas adalah anggota Ikhwan. Ini seperti dikatakan oleh salah seorang anggota Hamas yang tak ingin identitasnya diketahui banyak orang. Imam Hasan Al-Bana mempunyai ikatan sejarah yang kuat dengan Hamas dan Palestina. Ikhwan mempunyai kewajiban untuk terlibat langsung dalam perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel. Usai kemenangan Hamas dalam pemilu 2006 itu, Israel mulai menyadari jika inti perlawanan Palestina adalah Hamas.

4.) Tiga bulan setelah kemenangan Hamas, Israel mengajak semua negara Barat dan juga AS untuk memboikot hasil pemilu itu. Salah satu bentuk kongkret boikot Israel adalah dengan cara menutup Gaza dari dunia luar. Mengapa Jalur Gaza dan tidak daerah Palestina lainnya? Bisa dikatakan daerah lainnya sudah berada dalam kekuasaan Israel melalui otoritas Fatah. Kedua, Gaza menjadi semacam base-camp Hamas dan rakyat Palestina yang tak akan pernah mundur dari penjajahan Israel. Pada periode ini, Gaza hanya ditutup dari akses dunia luar saja. Isolasi pada tiga bulan pertama ini dimaksudkan agar rakyat Palestina menyalahkan Hamas—dengan Hamas memenangi pemilu, maka dunia menutup Gaza.

5.) Setelah tiga bulan pertama tersebut, kenyataannya, warga Gaza khususnya, dan rakyat Palestina umumnya, semakin komit dan percaya terhadap Hamas. Mereka semakin yakin bahwa bersama Hamas, Palestina akan mempertahankan tanahnya dan merebut apa yang telah dirampas oleh Yahudi.

6.) Israel makin pening menghadapi bukti seperti itu. Mereka kemudian mencabut listrik dan air di Jalur Gaza untuk tiga bulan berikutnya. Israel berharap dengan melakukan tindakan seperti ini, warga Gaza akan mulai menunjukan kebencian terhadap Hamas. Seperti yang diketahui oleh dunia, Gaza tetap bisa survive dan seperti asyik menyiapkan banyak hal di tengah kepungan Israel itu.

7.) Tiga bulan berikutnya (berarti sudah hampir 1 tahun sejak pemilu 2006), Israel benar-benar menutup semua kebutuhan hidup untuk Gaza. Mulai dari obat-obatan, listrik, air, sampai juga tidak ada jalur keluar dan masuk bagi rakyat Gaza untuk keluar dari daerahnya.

8.) Menjelang akhir 2008, bertepatan dengan akan segera lengsernya George Bush dan dilantiknya Barack Hussein Obama di AS, Israel menggempur Gaza. Mereka menargetkan penyerangan ini hanya untuk beberapa hari, namun kenyataannya setelah hampir satu bulan, mereka tidak berhasil menaklukan Gaza. Walaupun Gaza lebur dan lebih dari 1000 orang tewas, tidak ada satupun misi Israel yang tercapai. Sekitar hari ke-10 masa agresi, banyak tentara Israel yang stress dan minta dipulangkan, karena takut menghadapai perlawanan Hamas dan rakyat Palestina secara langsung.

9.) Selama agresi berlangsung, kurang lebih sebulan, sekitar 500 anak Palestina tewas. Namun pada saat yang sama, banyak terjadi kelahiran di Gaza, dan yang menghebohkan adalah kelahiran itu hampir rata-rata kembar, paling sedikit 2 bayi. Sekarang diperkirakan ada 5000 bayi baru di Gaza yang lahir selama agresi Israel berlangsung.

10.) Di seantreo dunia, dukungan paling besar yang datang untuk Palestina berasal dari Indonesia. Lebih dari Rp. 50 milyar disumbangkan oleh Indonesia hanya dalam kurun waktu kurang 1 bulan saja, baik dari pribadi yang dikumpulkan secara kolektif ataupun institusi, dan ini melebihi sumbangan rakyat manapun di semua negara yang konsern terhadap Palestina. Rakyat Palestina terharu dan tak akan pernah melupakan rakyat Indonesia. Jika kebetulan kita berbincang dengan rakyat Palestina, baik melaui on-line ataupun secara langsung, niscaya kita akan merasakan langsung pengakuan dan penghormatan dari mereka akan hal ini.

11.) Gaza hanya dijadikan sebagai sasaran antara saja. Tujuan Israel tetap walau bagaimanapun adalah menguasai Masjidil Aqsa. Gaza hanya dijadikan sebagai pengalih perhatian umat muslim agar lupa pada Masjidil Aqsa.

(sa/berbagai sumber)

Sunday, January 25, 2009

Obama: Sikap Amerika Adalah Melindungi Israel

Obama: Sikap Amerika Adalah Melindungi Israel
Sabtu, 24 Januari 2009 04:47

Barack Obama
warnaislam.com — Obama sudah menunjukkan kepada dunia siapa dia sebenarnya dan bagaimana sikapnya terhadap teroris internasional, Israel. Dalam sebuah pidato pasca pelantikannya kemarin, Obama dengan tegas mengatakan bahwa Amerika akan selalu melindungi dan berpihak kepada Israel.

Hal ini sudah cukup menggambarkan bagaimana sikap Obama kedepan terhadap permasalahan Palestina. "Kami tidak ingin Hamas terus menerus melepaskan roketnya ke Israel, karena ini merupakan kajahatan terorisme." Obama mejelaskan bahwa Hamas adalah teroris karena telah melakukan penyerangan terus menerus terhadap Israel, dan hal ini tidak bisa dibiarkan. Sehingga Amerika harus melindungi Israel.

Di lain pihak, sikap Obama atas jutaan warga Gaza yang telah menderita akibat gempuran Israel sejauh ini hanyalah ungkapan simpati. "Saya bersimpati atas apa yang terjadi di Gaza, atas krisis air bersih dan makanan serta rusaknya sejumlah bangunan".

Dikala seluruh negara mengutuk Israel atas aksi kejinya dan justru menuduh Israel sebagai penjahat perang dengan segala senjata terlarangnya, Obama seolah ingin memutar balik opini tersebut dengan mengatakan bahwa Hamaslah yang teroris dan dengan itu Amerika akan selalu melindungi Israel.

Dengan demikian sejumlah pengamat yakin bahwa memang kebijakan luar negeri Amerika terkait masalah Palestina dan konflik Timur Tengah, tidak akan berbeda dengan pendahulunya, Bush.

penulis :
Mirzah Abdulaziz

Gaza “Hirosima Abad 21

Pengamat Militer : Gaza “Hirosima Abad 21”
Kamis, 22 Januari 2009 10:20

Fosfor Putih Pemusnah Masal
warnaislam.com — Kehancuran dan kerusakan rumah, gedung perkantoran, sekolah, masjid, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya, termasuk juga mayat-mayat para penduduk sipil yang menjadi korban kebiadaban para penjarah bumi Palestina menjadi pemandangan yang sangat mengerikan di Gaza.

Tentara teroris Israel dalam agresinya ke Jalur Gaza telah menggunakan senjata terlarang secara hukum internasional. Kejahatan ini tidak banyak berbeda dengan yang pernah dilakukan Amerika Serikat terhadap kota Hirosima pada tahun 1945.

Walaupun jumlah korban tewas dan luka tidak sebanding yang terjadi di Gaza dan Hirosima, di Gaza tercatat korban meninggal lebih dari 1300 orang dan di Hirosima ratusan ribu yang tewas. Namun ada banyak kemiripan diantara keduanya, demikian analisa para pengamat militer. Mereka juga menilai bahwa Gaza sebagai Hirosima abad 21.

Pengamat militer dan strategi Mesir Abdel Monem Kathu mengungkapkan bahwa kedua peperangan tersebut sudah banyak dipenuhi pelanggaran secara aturan kemanusiaan dan aturan peperangan. Kalau AS telah memperlihatkan perang terhadap Hirosima sedangkan Israel telah memperlhatkan kebiadabannya dalam agresinya ke Jalur Gaza.

Abdel Monem Kathu juga mengisyaratkan bahwa AS telah menggunakan senjata nuklir untuk memusnahkan Hirosima untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Sedangkan Israel dalam memusnahkan penduduk Gaza menggunakan fosfor putih yang mengandung uranium. Sebagaimana laporan para dokter Mesir, bahwa Israel telah menggunakan senjata terlarang yaitu berupa bom-bom yang sangat mematikan.

Kathu menambahkan bahwa kemiripan yang dilakukan oleh AS dan Israel adalah menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran. Ini jelas sekali saat Israel menyerbu Gaza dengan luas 360 km2 yang termasuk padat penduduk sekitar 1,6 juta jiwa. Menurutnya AS telah menghancurkan sekitar 90 % Hirosima sedangkan Israel telah menghancurkan 70 % wilayah Jalur Gaza.

Unsur kemiripan lainnya dalam perang tersebut adalah ketidakseimbangan antara kekuatan Mujahidin Palestina dan Tentara teroris Israel, dimana para Mujahidin hanya mengandalkan senjata seadanya sedangkan Israel menggunakan senjata penghancur massal yang canggih dan sangat mutakhir.



penulis :
H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.

Wednesday, January 21, 2009

Ismail Haniyah Aktifkan Kembali Pemerintahannya di Jalur Gaza


Pemerintahan Resmi Palestina yang dipimpin Ismail Haniyah di Jalur Gaza, menyatakan akan kembali melanjutkan tugasnya dan mengaktifkan departemen pemerintahan serta institusi sipil di Jalur Gaza mulai Rabu pagi ini (21/1). Jubir Pemerintah juga telah menyerukan kepada para pegawai dan masyarakat lainnya, dengan segala keterbatasan yang ada untuk kembali melanjutkan aktivitas di tempat kerja mereka. Langkah ini diambil demi keberlangsungan hidup warga Jalur Gaza, agar pemerintah bisa segera bertindak cepat untuk melakukan segala bentuk perbaikan di wilayahnya.

Seruan tersebut disambut baik oleh warga Gaza. Pihak kampus dan sekolah-sekolah yang berada di kota itu telah menyatakan kesiapannya untuk kembali melanjutkan aktivitas mengajar. Baik para pengajar dan anak didik, hari ini mereka semua sudah siap memulai hidup baru dengan aktivitas rutin seperti biasa.

Jumlah Syuhada Terus Bertambah

Selasa kemarin diberitakan, dua orang anak kecil di Timur Gaza syahid terkena ledakan sisa granat dari agresi Israel ke wilayah itu. Sedangkan syuhada lainnya, adalah seorang petani yang ditembak tentara Israel yang berada di Utara Jalur Gaza.

Dengan demikian, berdasarkan laporan pihak kedokteran Palestina, jumlah warga Gaza yang syahid hingga hari ini sebanyak 1317 orang, sebagian besar mereka adalah anak-anak dan perempuan. Adapun jumlah korban luka sebanyak 5340 orang, dengan data statistik 35% (1855 orang) diantaranya adalah anak-anak dan 15% (795 orang) perempuan. Pihak kedokteran juga menghimbau para warga, demi menghindari bertambahnya korban, agar menjauhi tempat-tempat yang diperkirakan ditanam bom ranjau oleh Israel sebelum mereka menarik diri dari Jalur Gaza.

Hingga saat ini tentara Isarel dikabarkan secara bertahap masih menarik pasukannnya dari Jalur Gaza, dan Selasa kemarin gelombang penarikan senjata berat dan pasukan darat dikabarkan berlangsung secara besar-besaran. Hari ini merupakan hari ke-4 penarikan keluar militer Israel, bersamaan dengan mulai diberlakukannya gencatan senjata yang diserukan Israel pada hari Sabtu lalu (16/1).

Dengan adanya gencatan senjata dan penarikan militer itu, penduduk Gaza kembali ke rumah-rumah mereka yang telah hancur di bom oleh Israel. Bersama para relawan kemanusiaan, mereka kemudian mencari korban-korban yang masih terbenam di balik puing-puing reruntuhan bangunan. Dalam hal ini Direktur urusan Ambulan Darurat, Muawiya Hassanein mengatakan, puluhan syuhada yang tewas dibalik reruntuhan kebanyakan mereka adalah para perempuan, anak-anak dan pria dewasa. Data PBB kemudian menyebutkan, sebanyak 50 puluh ribu warga Gaza kini hidup tanpa memiliki tempat tinggal.(SINAI/ALJ)

Tuesday, January 20, 2009

Dibawah Obama, Palestina Tetap Menjadi Kambing Hitam



Rabu, 21/01/2009 10:34 WIB Cetak | Kirim | RSS

Masyarakat dunia seolah tersihir menyaksikan pelantikan presiden terpilih AS Barack Obama yang berlangsung di Gedung Capitol kemarin.

Dalam sekejap, masyarakat dunia seolah lupa dengan penderitaan yang menimpa rakyat Palestina di Jalur Gaza akibat kebiadaban Zionis Israel, sebuah pemerintahan yang oleh Obama disebut sebagai "sahabat" nya.

Yang menyedihkan lagi, Obama sama sekali tidak menyinggung bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza, apalagi mengecam sahabatnya, Israel. Bagi warga Gaza, Obama bukanlah siapa-siapa. Tak ada yang bisa diharapkan dari sosok presiden seperti Obama.

Khalil al-Attar, seorang pegawai negeri di Gaza mengatakan seperti presiden AS lainnya, Obama tidak akan mengubah kebijakan pro-Israel yang secara historis melekat pada negara AS. Biarbagaimanapun, kata Attar, Obama akan bertindak sejalan dengan kepentingan kelompok yang telah memilihnya, kelompok lobi Yahudi AS.

"Kepentingan-kepentingan itu sesuai dengan kepentingan rakyat Israel ... sedangkan rakyat Palestina, mereka akan selalu menjadi kambing hitam," ujar Attar.

Dukungan penuh Obama pada Israel, sudah ditunjukkannya selama masa kampanye presiden kemarin. Di hadapan AIPAC (American Israel Public Affairs Council), lobi Yahudi yang sangat berpengaruh di AS, Obama menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibukota Israel "yang tidak bisa terbagi". Padahal dunia internasional pun tahu bahwa Yerusalem adalah kota Palestina yang dirampas Israel.

Janji Obama untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina, hanya berpijak pada kepentingan Israel saja sementara kepentingan rakyat Palestina diabaikan.

Samih Zouhdi, pegawai bank di Gaza menyatakan tidak percaya Obama akan merealisasikan janji-janjinya. "Politik hanya memahami bahasa kepentingan dan kami (Palestina) tidak mewakili kepentingan AS," ujar Zouhdi.

Leila Khalil, seorang janda yang suaminya menjadi korban keganasan Israel di Jalur Gaza juga mengungkapkan ketidakpeduliannya pada Obama. "Pemimpin Amerika tidak akan bisa mengembalikan milik saya yang hilang, Obama tidak akan mengembalikan suami saya," tukasnya.

"Suami saya menjadi martir. Meninggalkan saya dan enam anak-anak yang harus saya nafkahi. Obama tidak akan mengembalikan rumah kami yang hancur oleh serangan Israel," sambungnya.

Zouhdi membenarkan ucapan Khalil. "Tak seorang pun presiden AS yang akan memberikan kompensasi atas kehilangan yang kami alami, tak akan menghidupkan kembali para martir, tak akan menyembuhkan mereka yang diamputasi atau membangun rumah-rumah kami kembali," tandas Zouhdi.

Leila Khalil menambahkan,"Kami bahkan sudah tidak bisa mengandalkan pimpinan negara-negara Arab, lantas apa yang kami harapkan dari presiden Amerika yang selalu mendukung Israel? Tak seorang pun peduli pada kami."

Pernyataan warga Gaza bisa dimaklumi. Sulit mempercayai perkataan Obama dalam pidatonya yang mengatakan akan membuka jalan baru bagi hubungan dengan dunia Islam berdasarkan saling menghormati dan saling menguntungkan, karena melihat kebiadaban Israel di Gaza saja, Obama tidak berani berkata apa-apa dan berlagak pilon. (ln/iol)

Pimpinan Shin Bet Akui Militer Israel Gagal Hancurkan Persenjataan Hamas


Eramuslim 19/1-09
Para pejabat pemerintah Israel sah-sah saja mengklaim sudah memenangkan peperangan melawan Hamas di Gaza. Tapi kepala intelejen dalam negeri Israel (Shin Bet), Yuval Diskin mengatakan, pasukan Israel tidak berhasil membumihanguskan seluruh terowongan-terowongan yang dibangun Hamas.

Begitu juga dengan Partai Likud, partai oposisi pemerintah Israe, juga menilai Israel tidak berhasil mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza.

Usai rapat kabinet hari Minggu kemarin, Diskin mengakui bahwa Tel Aviv gagal mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza dan gagal melucuti persenjataan Hamas. Karena terowongan-terowongan yang dibangun Hamas, yang diklaim Israel sudah berhasil dihancurkan, masih ada. Diskin juga menyatakan, Hamas akan mampu memulihkan persenjataannya dalam jangka waktu singkat.

Israel menuding Hamas menggunakan terowongan untuk menyelundupkan senjata dari Mesir. Padahal terowongan-terowongan itu dibangun agar warga Gaza bisa mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang sulit mereka dapatkan setelah Israel menutup semua perbatasan dan memblokade wilayah Gaza selama lebih dari satu tahun.

Meski Israel sudah menyatakan gencatan senjata, situasi keamanan di Jalur Gaza masih rawan karena Israel masih menempatkan banyak pasukannya di wilayah itu dan mengancam akan melanjutkan operasi militernya jika pejuang Palestina menembakkan roketnya.

Di sisi lain, faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza memberikan ultimatum pada Israel untuk menarik seluruh pasukannya dalam satu minggu dan selama satu minggu itu, pejuang Palestina akan melakukan gencatan senjata.

Warga Palestina di Gaza memang belum sepenuhnya aman dari kebrutalan pasukan Zionis Israel. Namun sejumlah pengamat keamanan dan militer sepakat menyebut gencatan senjata sepihak Israel adalah kemenangan bagi Palestina. Karena selama 22 hari agresi kejinya dari darat, laut dan udara, Israel telah membunuh dan melukai warga sipil dan menghancurkan fasilitas publik serta pemukiman warga Palestina di Gaza.

Analis militer asal Mesir, Tal'at Mussalam mengatakan, "Faktanya, musuh sudah gagal mencapai tujuannya dan ini merupakan kemenangan yang jelas bagi kelompok perlawanan di Palestina."

Pendapat serupa diungkapkan Walid Sokaria, pengamat militer asal Libanon. "Setelah 22 hari melakukan serangan non-stop, militer Israel gagal memaksa Hamas dan kelompok-kelompok pejuang lainnya untuk menyerah. Perang Israel tidak mampu menghentikan tembakan roket dan tidak mampu menumbangkan Hamas di Gaza, bahkan Israel gagal membebaskan prajuritanya, Gilad Shalit yang ditawan pejuang Palestina," papar sokaria

"Kemenangan macam apa yang mereka (Israel) klaim. Hamas-lah pihak yang memenangkan peperangan," tukasnya.

Sokaria menambahkan, agresi brutal Israel ke Gaza yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman gencatan senjata sepihak oleh Israel, juga meningkatkan popularitas Hamas di kalangan rakyat Palestina, masyarakat Arab dan komunitas internasional.

Pendapat berbeda dilontarkan Yassin Suwaid, pengamat militer di Libanon. Menurutnya, Israel telah berhasil melakukan pukulan keras terhadap Hamas. "Tidak diragukan lagi, Israel adalah pemenangnya," kata Suwaid.

Menurutnya, yang mengalami kekalahan dalam perang ini adalah warga Gaza yang kehilangan rumah dan orang-orang yang mereka cintai, karena tujuan agresi ke Gaza memang untuk menghancurkan rakyat Palestina di Gaza dan bukan untuk menumbangkan kekuasaan Hamas di wilayah itu.

Agresi brutal Israel ke Jalur Gaza menghancurkan sedikitnya 20.000 pemukiman, 1.500 fasilitas komersial, 51 gedung pemerintahan, 18 gedung sekolah, 20 masjid dan 50 kilometer jalan. Dana yang dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza dipekirakan mencapai satu milyar dollar.

Pengamat militer di Mesir, Mohammed Abdul Salam tidak sepakat dengan pendapat Suwaid. Ia mengatakan, kehancuran yang terjadi akibat ulah Israel tidak bisa dijadikan basis untuk menilai siapa yang telah memenangkan perang. Abdul Salam cenderung netral memberikan pendapatnya.

"Israel gagal menumbangkan kekuasaan Hamas di Gaza, gagal menghentikan tembakan roket dan menghentikan penyelundupan senjata. Hamas juga tidak berhasil mencapai tujuan militernya. Sebab itu, yang terbaik untuk menjelaskan hasil peperangan ini, Hamas tidak kalah dan Israel tidak menang," ujarnya. (ln/iol/prtv)

Anggota Parlemen Likud: Agresi Militer Israel ke Gaza Gagal


Anggota Parlemen Partai Likud, dan pakar di bidang hukum, Yisrael Katz, menyatakan agresi militer Israel ke Gaza, mengalami kegagalan. Israel tidak mencapai tujuannya. Dan, menimbulkan ratusan korban dikalangan militernya. Pengakuan Katz membuka tabir, yang terang-benderang, yang selalu ditutupi, dan sejatinya Zionis-Israel menderita kerugian besar, akibat agresi yang dilakukan terhadap Gaza.

Katz menegaskan, operasi militer ke Gaza, gagal total, dan itu dibuktikan dengan pengumuman Perdana Menteri Israel, yang mengumumkan pernyataan bahwa Israel, secara sefihak (unilateral) menghentikan serangannya (gencatan) di Gaza, dan tanpa mampu memusnahkan (eliminasi) kekuatan Hamas, dan tidak pula menghasilkan perjanjian penghentian pengiriman senjata, serta membebaskan Kopral Gilad Shalid.

Koran The Observer yang terbit di London, koran yang memiliki pengaruh cukup luas di Inggris, menulis berita, perang yang dilakukan Israel di Gaza, menimbulkan kekalahan secara militer dan moral, tulis The Obeserver. Selanjutnya, koran itu menulis, masalah keamanan Israel, tak dapat diselesaikan hanya secara sefihak (unilateral) yaitu dengan menggunakan kekuatan militer. Cara berpikir para pemimin Israel itu, hanyalah mimpi belaka, dan sikap ini yang mendominasi mayoritas para pemimpin Israel. Keputusan yang diambil tidak sama sekali berdasarkan fakta di lapangan, di mana akibat agresi itu telah menimbulkan korban sipil yang sangat besar, bukan menghancurkan kelompok Hamas di Gaza. The Observer itu menambahkan, sebenarnya tujuan agresi Israel itu ingin membatasi kemampuan militer Hamas, tapi mengapa harus menghancurkan seluruh infrastruktur yang ada di Gaza. Memang, Israel tidak dapat lagi membedakan antara tempt pejuang Hamas dengan fasilitas umum, semuanya mereka hancurkan. Bahkan, kantor PBB juga menjadi target militer mereka.

Menurut koran yang terbit di Inggris yang memiliki tiras yang luas itu, justru tindakan Israel yang brutal itu, hanyalah menaikan popularitas, simpati dan moral pejuang Hamas di Gaza. Hamas berhasil menyatukan Timur dan Barat, ketika menghadapi Israel. Seluruh dunia dari berbagai kalangan agama, politisi, dan kelompok-kelompok yang ada semua mereka miliki pandangn yang sama, bahwa Israel menjadi ancaman perdamaian. Agresi Israel itu, juga menciptakan kesadaran yang sifatnya kolektif dikalangan masyarakat internasional.

Dr.Abdelsattar Qassem, seorang professor dibidang ilmu politik di Najah Nasional University, yang berada di kota Nablus, perang yang terjadi di Gaza, hanya menjadikan Hamas, sebagai kekuatan perjuangan yang sangat dikagumi dikalangan penduduk, dan kemampuan bertahan selama 22 hari menghadapi gempuran militer Israel, sangatlah mengagumkan. Selanjutnya, Dr.Qassem menambahkan populeritas Hamas, sekarang ini menyeruak ke seluruh dunia Arab, dan seluruh kalangan Gerakan Islam, dan menjadikan Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, tersungkur, ujar Dr.assem.

Israel gagal menusuk dari belakang Gaza untuk menghancurkan Hamas, dan kelompok pejuang Palestina itu, berhasil memberikan perlawanan yang sengit, sehingga pasukan pertahan Israel, gagal mencapai tujuannya menghancurkan seluruh kemampuan militer Hamas. Israel dan para pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Israel, Ehut Olmert , mencatat pasukan Israel tidak mencapai kemajuan yang berarti dari agresi militernya ke Gaza, dan hanyalah menimbulkan korban sipil.

Impian para pemimpin Zionis-Israel akan memenangkan perang di Gaza melawan Hamas, sudah berlalu. Dan, hanya tinggal impian, karena menurut Dr.Qassem kekuatan perlawanan Hamas, memiliki kemampuan pertahanan yang cukup baik, dan akhirnya dapat memenangkan perang, ketika berhadapan dengan pasukan Israel, yang memiliki kemampuan senjata yang amat modern. (M/Pic).